Sekuntum bunga harapan, sekuntum bunga yang begitu memesona. Ia memiliki mahkota merah yang sangat besar dan indah, sehingga menambah unsur kemewahan pada dirinya. Aromanya pun harum sekali, jika kau menciumnya seketika beban hidupmu pasti akan terasa ringan, seakan-akan kau sedang melayang di atas awan yang sangat putih dan bersih. Bagiku tak ada satu pun bunga yang dapat menandingi keindahan dan kemewahannya, karena ialah bunga yang terindah di dunia ini.
Namun bunga harapan sebenarnya berbeda dengan bunga pada umumnya. Ia tidak tumbuh di atas tanah atau air, ia hanya tumbuh di hati setiap insan yang ada di dunia ini. Ia juga tidak memerlukan cahaya, air, atau karbon dioksida untuk menyambung hidupnya, ia hanya memerlukan rangsangan perasaan dari setiap insan yang memiliknya. Selain itu, ia juga tidak perlu ditanam dengan cara dipaksa, karena ia akan tumbuh dengan sendirinya jika ada insan yang mulai membentangkan harapan tinggi kepada seseorang yang membuatnya jatuh cinta.
Tidak ada bunga yang dapat mekar untuk selamanya. Begitu juga dengan bunga harapan, ada kalanya ia akan layu. Tetapi cara ia layu sangat berbeda dengan bunga pada umumnya. Ia akan layu jika harapan sang pemilik kepada seseorang yang dicintainya tidak dapat tercapai, dengan rasa yang sangat pahit. Sebaliknya jika harapannya dapat tercapai, maka bunga ini pun akan mekar dengan indanya.
Itulah bunga harapan yang mungkin saja telah tumbuh juga di hatimu.
* *
Diva, seorang wanita yang pertama kali membuka kisah cintaku bagaikan sebuah mentari pagi yang membuka lembaran hari baru. Oleh karena itu, aku sering menyebutnya dengan sebutan ‘Sang Mentari Pagi’. Wanita itulah yang telah berhasil menumbuhkan bunga harapan di hatiku untuk pertama kalinya.
Namun sudah dua tahun kami tidak pernah bertatap muka kembali. Setelah pendidikan kami di SMP Negeri 47 Jakarta selesai, ia harus melanjutkan pendidikan SMAnya di Bandung, karena ayahnya dipindah tugaskan ke Kota itu oleh kepala kantornya. Sejak hari itulah kami hanya dapat berhubungan via handphone dan jaringan internet saja, hingga membuat bunga harapanku tidak dapat mekar seindah waktu pertama kali tumbuh kembali, pahit sekali rasanya.
* *
Ketika itu waktu telah menunjukan pukul delapan malam, aku sedang membaca sebuah novel di dalam kamarku. Tiba-tiba sebuah pesan masuk di handphoneku, segera kuambil benda yang kuletakkan di atas tempat tidurku itu. Ternyata pesan tersebut dikirim oleh sang mentari pagiku, Diva. ”Malam Wan, aku punya kabar baik nih untukmu” katanya lewat pesan itu.
Penasaran, langsung kubalas pesan itu ”Kabar apa Div? Sepertinya kabar yang sangat bagus ya?”
”Begini Wan, besok malam ayahku ingin mengunjungi kantor lamanya untuk mengambil sebuah arsip pekerjaannya. Jadi besok aku mau ikut ayahku ke Jakarta” jawabnya.
”Hah? Yang benar?” balasku.
”Iya benar. Terus besok malam kita ketemuan yuk di taman samping SMP kita dulu, kamu bisa gak Wan?”
”Oh, pasti bisa Div. Jam berapa?”
”Jam 7 malam”
”Oke. Aku tunggu yaa..”
Sulit sekali rasanya untuk mempercayainya, sudah hampir dua tahun menunggu akhirnya besok malam aku akan bertemu dengannya lagi. Terima kasih Tuhan, Kau telah memberikan kesempatan lagi kepada bunga harapanku ini untuk memekarkan mahkotanya, takkan kusia-siakan kesempatan yang telah Kau berikan kepadaku ini Tuhan.
Tiba-tiba muncul sebuah ide di dalam otakku ”Hm.. Apa besok malam sekalian kunyatakan perasaan cintaku ini saja ya? Pasti besok malam adalah waktu yang sangat tepat. Lagi pula tak ada salahnya juga kan menjalin hubungan jarak jauh? Toh tidak ada yang melarang juga. Lalu apa yang harus kuberikan untuknya besok malam ya? Oiya, lagu! Akan kubuatkan lagu sekarang juga untuknya. Sip!”
* *
Rasanya bagaikan hantaman sebuah petir di tengah badai besar di tepi pantai. Pantai yang seharusnya terlihat indah, berubah menjadi tempat yang sangat menakutkan dan menyeramkan. Pertemuan yang awalnya kuharap akan berujung dengan indah ternyata berakhir menjadi pertemuan yang sangat menyakitkan hingga membuat bunga harapanku layu, kering, lalu mati untuk selamanya.
Bulan purnama tengah menyinariku yang sedang duduk sendiri di atas bangku taman menanti datangnya sang mentari pagi sambil ditemani sebuah gitar akustik milikku. Sesekali kutatap arloji yang kupakai di lengan kiriku.
Waktu telah menunjukan pukul delapan malam, namun Diva tak kunjung datang juga. Padahal ia telah mengatakan akan datang satu jam yang lalu, aku pun sudah hampir dua jam menunggu di tempat yang mulai membosankan ini. Seakan-akan aku mendengar bisikan bulan purnama yang berulang kali bertanya kepadaku “Sedang apa kau disini nak? Nampaknya kau adalah anak laki-laki yang sedang kesepian ya?”
Setiap kali aku mendengar bisikan itu, rasanya ingin sekali kutelfon dan menanyakan keberadaan sang mentari pagiku itu. Namun sayang handphonenya tidak aktif, aku pun dibuat bingung olehnya. Ah, Diva kau dimana?
Tiba-tiba beribu pertanyaan negatif muncul di pikiranku “Apa Diva tidak jadi datang? Atau jangan-jangan ia memang tak ada niat untuk datang? Lalu semua yang dikatakannya kemarin hanya bohong”
”Ah, tidak mungkin Diva tega membohongiku. Aku akan menunggunya sampai pukul setengah sembilan malam nanti, kalau ia tidak datang juga berarti ia memang hanya membohongiku, dan aku akan pulang ketika itu juga” kataku dalam hati.
Seiring berjalannya waktu, bunga harapanku pun perlahan-lahan mulai menyusut dari masa kemekarannya untuk menuju sebuah masa yang sangat pahit, yaitu layu.
Namun ternyata waktu sudah menunjukan pukul setengah sembilan malam, dan Diva tak kunjung datang juga. Seperti yang telah kuniatkan, aku langsung berdiri dari tempat dudukku dan segera berlari menuju ke gerbang keluar.
Namun tiba-tiba terdengar teriakan seorang wanita dari belakangku, ia memanggilku “Awaaan….!” suara itu terdengar sangat familiar sekali di telingaku. Aku pun segera menoleh ke belakang, wanita yang memanggilku itu adalah seorang wanita cantik berambut panjang dengan dress putih yang dikenakannya, lalu ia tersenyum melihatku. Ternyata ia adalah wanita yang kutunggu-tunggu dari tiga jam yang lalu, sang mentari pagi, Diva. Ah, akhirnya bunga harapanku pun mulai mekar kembali dari sebuah prosesnya menuju kelayuan, indah sekali rasanya.
Dengan rasa tak sabar, aku segera mengejarnya dan merangkul tubuhnya dengan senyum yang tak lepas dari bibirku, lalu kuajaknya duduk di sebuah bangku taman. ”Maaf banget ya Wan aku telat, soalnya tadi arsip ayahku ada yang hilang. Jadi aku harus membantu mencari arsipnya dulu. Maaf banget ya..” katanya dengan nada yang sangat lembut.
Aku menatapnya dengan penuh kebahagiaan, namun degup jantungku terasa sangat cepat sekali. ”Oh, tidak apa-apa kok. Tenang saja Div” jawabku. Lalu ia pun tersenyum menatapku.
Namun selang waktu beberapa detik tampak kesedihan dari paras wajahnya yang begitu anggun hingga membuat hatiku bertanya-tanya. “Kamu terlihat sedih Div, ada apa?” tanyaku dengan suara yang sangat pelan dan penuh kehati-hatian. Namun ia hanya tersenyum walaupun terlihat sedikit dipaksakan. “Ada apa? Cerita saja pada ku..” tambahku.
“Tidak kok, aku tidak sedih. Malah aku sangat bahagia” ia berusaha meyakinkanku. “Sudah hampir dua tahun kita tidak pernah bertemu, tapi akhirnya ditempat ini kita bisa bertemu lagi. Aku senang sekali, Wan” Sambungnya sambil tersenyum.
“Oh bagus deh kalau kamu tidak apa-apa, aku juga senang sekali bisa bertemu lagi sama kamu di tempat ini” kataku sambil tersenyum. ”Oiya, ada sesuatu yang ingin kutunjukan kepadamu”
“Apa itu?” tanyanya tak sabar.
“Aku ingin mempersembahkan sebuah lagu untukmu. Lagu ini khusus kuciptakan untukmu, khusus di malam ini”
Ia mengerutkan dahinya sambil tersenyum. “Kamu ingin memainkannya sekarang? Aku penasaran” katanya dengan penuh semangat. Hilang sudah semua kesedihan yang sebelumnya tampak di wajahnya.
Kemudian segera kupetik senar gitarku dan mulai menyanyikan lagu tersebut. Kuharap hatinya bisa terpikat kepadaku dengan laguku itu. Kata demi kata kulantunkan dengan penuh penghayatan, hingga aku pun merasa kalau lagu itu sangat indah sekali. Seketika suasana taman terasa sangat hening dan tenang, tiada satupun suara yang terdengar, hanya suaraku, gitarku, dan hembusan angin malam yang sangat menenangkan jiwa.
* *
Tiba-tiba teringat kembali pada kisah pertamaku bertemu dengan Diva. Ketika itu aku masih kelas dua SMP di sebuah sekolah yang sama dengannya.
Setelah bel istirahat dibunyikan, dari tempat dudukku aku berjalan menuju ke luar kelas. Lalu seorang wanita berambut poni yang terurai lurus berlari dari luar menuju ke dalam kelas, ia adalah Diva. Tepat di mulut pintu ia nyaris menabrakku, namun ia menahan tubuhnya dengan cara memegang pundakku. Otomatis kami pun beradu pandang, dekat sekali, mungkin hanya berjarak lima centi saja.
Suasana kelas yang sebenarnya sangat berisik seketika terasa hening, tak ada satu pun suara yang terdengar lagi. Mata kami bertatapan dengan perasaan yang tak dapat dilukiskan oleh kata-kata. Hatiku terpana dan tubuhku seakan melayang di atas awan yang sangat putih dan bersih, mataku pun dibutakan oleh kecantikan dan keanggunan wajahnya, detak jantungku menjadi cepat tak karuan. “Mungkin inikah yang dinamakan dengan cinta pada pandangan pertama? mungkinkah wanita ini adalah cinta pertamaku?” tanyaku dalam hati sambil tersenyum-senyum malu.
Terlihat kecantikan yang begitu memesona dari wajahnya. Rambutnya yang panjang dan tubuhnya yang tinggi pun menambah keindahan pada dirinya hingga membuat bibit bunga harapan tumbuh di hatiku. Bibit-bibit itu terasa sekali menancap di hatiku dan dengan cepat mengeluarkan akar-akarnya yang langsung merambat semakin dalam di hatiku.
“Eh, maaf..” Dia melepaskan tangannya dari pundakku. Kalimat itu pun menghamburkan seluruh lamunanku, aku tersenyum kepadanya. Namun aku tetap tidak bisa memalingkan pandanganku dari wajahnya, bola mataku tetap tidak bisa berhenti untuk terus mengikutinya sampai ke bangku paling belakang.
“Hey!” seseorang menepuk pundakku dari belakang, Dia adalah Rizky teman sebangkuku. Tepukan itu seolah menjadi sebuah tepukan yang menyadarkanku dari sebuah hipnotis yang sangat kuat, aku pun menoleh kepadanya. “Hati-hati! Kata orang cinta pertama itu sulit untuk dilupakan” Katanya sambil tersenyum-senyum.
* *
Terus kunyanyikan lagu itu. Baru memasuki bagian reff namun tiba-tiba Diva menunduk dan meneteskan air matanya, hingga membuatku merasa sangat bingung. Segera kuhentikan nyanyianku.
“Kenapa kamu menangis?” Tanyaku pelan seraya menghapus air matanya dengan sapu tangan yang kuambil dari kantong celanaku.
“Tidak apa-apa kok…” Jawabnya lembut dan langsung menghentikan tangisnya.
“Benar tidak apa-apa?”
“Benaar..” ia memaksakan diri untuk tersenyum.
Lalu tak ada satupun dari kami yang mengeluarkan suara. Kami hanya saling berpandangan, lama sekali.
Kemudian pelan-pelan kuberanikan diri untuk memegang kedua tangannya, jantungku mulai berdegup kencang. Menurutku, ini adalah waktu yang sangat tepat untuk aku mengutarakan perasaan cintaku kepadanya.
“Div.. Kamu tahu kan kalau dari SMP aku sudah suka sama kamu?” ia mengangguk dengan tangan yang gemetar. “Sekarang aku mulai ingin serius denganmu, Div”
“Maksudmu?” Dia pun memasang tampang bingungnya.
“Maksudku, kamu mau tidak jadi pacarku?” Tanyaku pelan dengan perasaan yang sangat takut. Jantungku tambah berdegup kencang, hingga terdengar sampai ke telingaku.
Namun ia diam sambil menundukkan kepalanya. Pikirku mungkin ia sedang memikirkan jawaban yang tepat agar tidak terjadi penyesalan di kemudian hari. Tapi ternyata salah! entah mengapa ia malah kembali menangis. Ia melepaskan tangannya dari genggamanku dan menutup matanya dengan kedua tangannya itu. Ah, aku sungguh bingung dengannya. Dari awal aku sudah memiliki firasat yang tidak baik padanya. Apa sebenarnya yang terjadi? Ada apa?
“Maaf Wan, aku tidak bisa. Aku benar-benar tidak bisa…” Katanya sambil meneteskan air matanya.
“Kenapa?” Tanyaku dengan tampang yang memelas.
“A-aku tidak bisaa…”
“Oke, baiklah kalau kamu memang benar-benar tidak bisa menerimaku.. Tapi kenapa?” Tanyaku. Tapi ia hanya menunduk, lama sekali, kemudian ia menatapku lagi.
“Wan, tapi kamu harus ingat ya kalau perjumpaan itu pasti akan selalu berujung dengan perpisahan, dan perpisahan pun tidak akan pernah ada selama tidak pernah terjadi perjumpaan” Katanya sambil terisak-isak.
“Maksud kamu apa?” Tanyaku heran.
“Begini, sebenarnya aku bisa saja menerimamu sebagai pacarku. Tapi mungkin nanti kita tidak akan bisa bertemu lagi” Jawabnya seraya menghapus air matanya.
Kalimat itu sangat mengejutkanku, bagaikan mendengar sebuah ledakan bom yang sangat dahsyat. Tatapan mataku pun menjadi kosong, tanpa ekspresi, seperti patung, ya patung yang sangat bodoh dan tak berarti.
“Besok pagi aku akan berangkat menuju New York atas permintaan ayahku. Ayahku meminta kami sekeluarga pindah ke New York karena ia dipindah tugaskan ke sana. Tadi arsip-apsip yang diambilnya adalah arsip-arsip yang ingin dibawa ke sana.” Jelasnya, namun aku masih tetap diam terpatung. Aku tak percaya akan kenyataan ini, awalnya kukira malam ini akan menjadi malam yang sangat indah, namun malah hancur berantakan oleh sebuah kenyataan yang sangat bertolak belakang dengan harapan. Bunga harapanku pun dengan cepat menjadi layu, seakan ia kecewa kepadaku karena aku tidak bisa menjaganya dengan baik.
“Ta-tapi…”
“Tin..! Tiiiinnn…” Terdengar bunyi klakson yang memotong pembicaraanku dari sebuah mobil yang diparkir di pingir jalan depan gerbang taman. Aku menoleh ke mobil itu, begitu juga dengan Diva.
“Iyaa… Tunggu dulu..!” Teriak Diva ke arah mobil itu.
“Siapa Div?” Tanyaku penasaran.
“Ayahku. Malam ini juga aku sudah harus bersiap-siap untuk keberangkatanku besok pagi, sekarang aku sudah harus pulang ke rumah Wan” Jawabnya.
Aku menatapnya kaget dan segera memeluknya ”Div, aku takut kita tidak bisa bertemu lagi” kataku sambil memeluknya.
”Tidak Wan, aku yakin pada suatu saat nanti kita pasti akan bertemu lagi. Tapii..”
“Tapi apa?” Tanyaku.
“Tapi sebenarnya aku juga tidak tahu yang kumaksud dengan suatu saat itu akan datang kapan” Jawabnya sambil meneteskan air mata.
Kemudian ia melepaskan pelukanku dan berlari menuju mobil itu. Aku hanya terpatung menatapnya.
* *
Pahit sekali rasanya. Kini sang mentari pagiku telah pergi jauh meninggalkanku. Tak pernah kusangka masa-masa yang telah kulalui bersamanya hanya berakhir dengan akhir yang seperti ini. Tuhan, ini bukanlah sebuah akhir yang kuinginkan, bisakah Kau merubahnya lagi agar menjadi sebuah akhir yang lebih baik? Aku ingin akhir kisahku ini berakhir seperti di dalam film-film, happy ending.
Memang sebenarnya apa yang dikatakan Diva sangat benar, perjumpaan itu pasti akan selalu berujung dengan perpisahan, dan perpisahan pun tidak akan pernah ada selama tidak terjadi perjumpaan. Namun kenapa perpisahan ini terjadi terlalu cepat? Kenapa harus di malam itu? Kenapa tidak di malam seratus tahun ke depan? Agar aku bisa bersamanya lebih lama lagi.
Namun bunga harapanku kini telah berubah, ia bukanlah bunga harapanku yang dulu lagi. Kini ia telah mengering, sudah tak pernah mekar seindah dulu. Warnanya yang begitu cerah telah berubah menjadi cokelat bahkan hampir mendekati hitam. Aromanya yang dulu begitu menyegarkan pun sekarang berubah menjadi bau yang sangat busuk. Tidak ada lagi bunga yang bernama bunga harapan di hatiku, kini bunga itu telah mati seiring usainya kisahku bersama sang mentari pagi.
Namun aku yakin bahwa bunga harapan pasti akan tumbuh kembali di hatiku. Namun sayangnya ia akan tumbuh dengan kisah yang baru, bukanlah kisah dengan sang mentari pagiku lagi. Selamat tinggal sang mentari pagiku...