Sabtu, 14 Juli 2012

KUNJUNGAN MEDIA KE SOLOPOS

Siapa yang tak kenal dengan kota Solo, kota yang berhiaskan citra sebagai pusat kebudayaan budaya Jawa, The Spirit of Java. Bila melihat budaya kota Solo seakan kita akan melihat budaya Jawa, seolah ia pun dapat dipandang sebagai model kebudayaan budaya Jawa. Banyak kebudayaan dan daya tarik pariwisata yang lahir dan berkembang di kota ini, membuatnya semakin dikenal oleh para wisatawan, baik lokal maupun asing. Lokasinya yang sangat strategis juga sangat membantu akan citranya tersebut akan tercipta. 

Lalu ada apa lagi yang bisa kita pelajari dari Solo? heemm.. sebagai mahasiswa yang bergerak di bidang media mahasiswa, akan menjawab “Surat Kabar!!”. Namun ada beberapa surat kabar yang berdiri dan beroperasi di daerah kota Solo ini (tidak tahu pastinya berapa), oleh karena itu untuk fungsi efisiensi waktu dan tenaga, dipilihlah satu surat kabar yang akan aku kunjungi bersama teman-teman departemen media opini publik BEM KM FGE UGM, yaitu SOLOPOS. Kemudian kami beri nama kegiatan tersebut dengan nama “Kunjungan Media ke SOLOPOS” 



Namun sepi rasanya bila hanya kami bersepuluh (anggota media opini publik) yang berangkat ke solopos ini, oleh karena itu kami pun berinisiatif untuk mengajak UKM dan HMJ lain untuk ikut bersama kami. Alhasil inilah kami yang berangkat ke SOLOPOS:


  
Kalau yang ini anak-anak media opini publik nya (ditambah mas tama, tapi dia ga bisa ikut):
 










Sesampainya di SOLOPOS, kami pun dibawa masuk ke dalam sebuah ruangan yang tidak begitu luas dengan penataan meja yang melingkar di tengah ruangan tersebut. Lalu kami duduk di masing-masing kursi yang melingkari meja besar tersebut. “Heem.. seperti ruang rapat” pikirku. Agak lama kami menunggu narasumber yang akan memberi materi kepada kami, dan hanya diberi hiburan sebuah tayangan iklan SOLOPOS yang dipancarkan dari sebuah proyektor, “solo… solo... solo..” ya hanya satu kata itulah yang diucapkan dari sekian banyak model-model iklan yang bergantian mejeng di iklan tersebut, sedikit membuatku geli memang hahaa.

Kemudian datanglah seorang mas-mas barpakaian seragam SOLOPOS berwarna biru, menurut beberapa temanku ia bernama Krisna, namun seingatku bukan Krisna namanya, tapi aku juga tidak tahu. Yasudahlah, ga terlalu penting juga, pokoknya orangnya yang ini deh: (maaf mas namanya agak terlupa..)






Kemudian ia bercerita banyak tentang SOLOPOS dan media, namun lebih fokus ke SOLOPOS-nya, mulai dari sejarahnya sampai ke mekanisme keredaksiannya. Ya, surat kabar yang pertama kali terbit pada tanggal 19 September 1997 ini memiliki sistem yang sama dengan sistem-sistem kerja lainnya, yaitu dibagi menjadi beberapa bagian yang memiliki fungsi dan tugasnya masing-masing namun tetap saling berkaitan.
Untuk keredaksiannya, redaksi dibagi menjadi bebarapa bagian yang tiap bagiannya dipengang oleh redaktur. Kemudian redaktur bertanggungjawab atas beberapa wartawan, yang wartawan tersebut tiap harinya harus mencari berita semenarik mungkin, minimal sekitar 2-3 berita tiap harinya. Kemudian setelah wartawan mendapatkan berita, dari berbagai sumber (Peristiwa, VSAT, Internet, Naskah Setter, Foto) ia bertugas untuk mengumpulkannya  ke redaktur dengan deadline pukul 16.00 WIB. Setelah redaktur menerimanya, kemudian dirapatkan dengan pemimpin redaksi untuk memutuskan berita mana yang layak untuk diterbitkan dan mana yang tidak layak untuk diterbitkan. 
Setelah hasil rapat telah ditentukan, kemudian dilakukan proses layouting. Lalu pada pukul 01.00 WIB proses penyetakan dilakukan  di tempat yang seperti ini:






Kemudian setelah proses percetakan selesai, Koran pun didistribusikan ke rumah-rumah pembaca. 

Seusai dari SOLOPOS, kami pun berwisata kuliner (eh engga juga sih, cuma makan di satu tempat di pinggir jalan gitu haha) dan berwisata di Taman Balekambang. Setelah itu baru lah kami pulang ke Kampus. Males ngejelasinnya, liat beberapa foto-fotonya aja ya..



Tidak ada komentar:

Posting Komentar