Siapa yang tak
kenal dengan kota Solo, kota yang berhiaskan citra sebagai pusat kebudayaan budaya
Jawa, The Spirit of Java. Bila
melihat budaya kota Solo seakan kita akan melihat budaya Jawa, seolah ia pun dapat
dipandang sebagai model kebudayaan budaya Jawa. Banyak kebudayaan dan daya
tarik pariwisata yang lahir dan berkembang di kota ini, membuatnya semakin
dikenal oleh para wisatawan, baik lokal maupun asing. Lokasinya yang sangat
strategis juga sangat membantu akan citranya tersebut akan tercipta.
Lalu ada apa lagi yang bisa kita pelajari dari Solo? heemm.. sebagai
mahasiswa yang bergerak di bidang media mahasiswa, akan menjawab “Surat
Kabar!!”. Namun ada beberapa surat kabar yang berdiri dan beroperasi di daerah
kota Solo ini (tidak tahu pastinya berapa), oleh karena itu untuk fungsi
efisiensi waktu dan tenaga, dipilihlah satu surat kabar yang akan aku kunjungi
bersama teman-teman departemen media opini publik BEM KM FGE UGM, yaitu
SOLOPOS. Kemudian kami beri nama kegiatan tersebut dengan nama “Kunjungan Media
ke SOLOPOS”
Namun
sepi rasanya bila hanya kami bersepuluh (anggota media opini publik) yang
berangkat ke solopos ini, oleh karena itu kami pun berinisiatif untuk mengajak
UKM dan HMJ lain untuk ikut bersama kami. Alhasil inilah kami yang berangkat ke
SOLOPOS:
Kalau
yang ini anak-anak media opini publik nya (ditambah mas tama, tapi dia ga bisa
ikut):
Sesampainya di SOLOPOS, kami pun dibawa masuk ke dalam sebuah ruangan
yang tidak begitu luas dengan penataan meja yang melingkar di tengah ruangan
tersebut. Lalu kami duduk di masing-masing kursi yang melingkari meja besar
tersebut. “Heem.. seperti ruang rapat” pikirku. Agak lama kami menunggu
narasumber yang akan memberi materi kepada kami, dan hanya diberi hiburan
sebuah tayangan iklan SOLOPOS yang dipancarkan dari sebuah proyektor, “solo…
solo... solo..” ya hanya satu kata itulah yang diucapkan dari sekian banyak
model-model iklan yang bergantian mejeng di iklan tersebut, sedikit
membuatku geli memang hahaa.
Kemudian
datanglah seorang mas-mas barpakaian seragam SOLOPOS berwarna biru, menurut
beberapa temanku ia bernama Krisna, namun seingatku bukan Krisna namanya, tapi
aku juga tidak tahu. Yasudahlah, ga terlalu penting juga, pokoknya orangnya
yang ini deh: (maaf mas namanya agak terlupa..)
Kemudian ia bercerita banyak
tentang SOLOPOS dan media, namun lebih fokus ke SOLOPOS-nya, mulai dari sejarahnya
sampai ke mekanisme keredaksiannya. Ya, surat kabar yang pertama kali terbit
pada tanggal
19 September 1997 ini memiliki sistem yang sama dengan sistem-sistem kerja
lainnya, yaitu dibagi menjadi beberapa bagian yang memiliki fungsi dan tugasnya
masing-masing namun tetap saling berkaitan.
Untuk keredaksiannya, redaksi
dibagi menjadi bebarapa bagian yang tiap bagiannya dipengang oleh redaktur.
Kemudian redaktur bertanggungjawab atas beberapa wartawan, yang wartawan
tersebut tiap harinya harus mencari berita semenarik mungkin, minimal sekitar
2-3 berita tiap harinya. Kemudian setelah wartawan mendapatkan berita, dari
berbagai sumber (Peristiwa,
VSAT, Internet, Naskah Setter, Foto) ia bertugas untuk mengumpulkannya ke redaktur dengan deadline pukul 16.00 WIB.
Setelah redaktur menerimanya, kemudian dirapatkan dengan pemimpin redaksi untuk
memutuskan berita mana yang layak untuk diterbitkan dan mana yang tidak layak
untuk diterbitkan.
Setelah hasil rapat telah
ditentukan, kemudian dilakukan proses layouting. Lalu pada pukul 01.00 WIB
proses penyetakan dilakukan di tempat yang
seperti ini:
Kemudian setelah proses percetakan
selesai, Koran pun didistribusikan ke rumah-rumah pembaca.
Seusai dari SOLOPOS, kami pun berwisata kuliner (eh
engga juga sih, cuma makan di satu tempat di pinggir jalan gitu haha) dan berwisata di Taman
Balekambang. Setelah itu baru lah kami pulang ke Kampus. Males ngejelasinnya, liat beberapa foto-fotonya aja ya..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar