Rabu, 01 Agustus 2012

SEBUAH JALAN LURUS


SEBUAH JALAN LURUS



Suara bising mulai melahap senyap. Orang-orang sibuk bercengkrama dengan sekitarnya, merasakan hitam putihnya kehidupan. Tak peduli dengan apa yang akan terjadi  selanjutnya, karena yang mereka ketahui hanyalah bagaimana merasakan indahnya menyambung nyawa kehidupan, tuk hari esok. Anak, cucu, keluarga, sahabat, ya merekalah segala-galanya dalam kehidupan ini.
* *
Aku terus menyusuri jalan itu, sebuah jalan lurus yang mengantarkanku dari titik pusat Yogyakarta menuju stasiun kereta api Tugu. Entah, rasanya  jalan itu terlihat sangat ramai, menari-nari di tengah rasa sesak, kanan kiri dipenuhi oleh orang-orang yang saling bertransaksi, menukarkan rupiah dengan berbagai jenis barang yang dijajakan di sepanjang jalan itu. Aku pun dibuat heran olehnya, tempat apa sebenarnya ini?
Terus kulangkahkan kedua kakiku tuk membawa tubuhku menyusuri jalan lurus itu, langkah demi langkah kutelusuri hingga aku menemukan sesuatu, ya sesuatu yang dapat membuka mata dan pikiranku. Lalu tak jauh kumelangkah, kulihat sekelompok bapak-bapak berkalungkan handuk kecil tengah menunggu pengunjung datang dengan setia di atas kendaraan roda tiganya. Setiap kali ada yang lewat di hadapannya, segera dengan semangat mereka menawarkan “mari becaknya, mau ke bakpia, pusat dagadu, batik, saya antar” seraya melangkah mendekatinya. Namun apabila tak berhasil satu target, tak pernah mereka menyerah dan berpurus asa, mereka pun beralih pada target selanjutnya. Berbagai cara mereka lakukan tuk menarik hati targetnya demi dapat menyambung nyawa keluarganya. Itulah hidup, siapa yang terus berusaha maka dia  lah yang akan mendapatkannya.
Kulanjutkan perjalananku, kemudian tak jauh kumelangkah kutemui di sebelah kanan jejeran warung makan yang beratapkan tenda besar memanjang di pinggiran jalan itu. Semua pelanggan yang ingin menikmatinya diharapkan rela untuk duduk lesehan, karena tak ada satu pun bangku yang disediakan untuk mereka. Namun mungkin itulah yang menjadi daya tarik mereka, sebagai warung makan di Yogyakarta di malam hari.
Sambil menikmati hidangan, tak lupa alunan musik yang dimainkan oleh para musisi jalanan pun tutut menambah indah suasana malam di kota itu, biasanya mereka memilih lagu yang dimainkan sesuai dengan suasana saat itu sehingga membuat hati pendengar menjadi nyaman. Namun balasan rupiah lah yang diinginkan oleh mereka dari jari-jari keiklasan para pendengarnya, tak berharap banyak namun yang mereka inginkan hanyalah rupiah itu dapat mencukupi kebutuhannya di hari ini, esok, dan selanjutnya.
Kutinggalkan mereka, dan berjalan terus ke arah stasiun. Kurasakan sepoinya angin yang berhambus di tubuhku, menambah damai dan sejuknya hati ini. Kemudian sesampainya di stasiun, kuputar balik tubuhku ke arah jalan lurus itu, tampak jelas sekali sebuah papan nama jalan yang berwarna hijau terpampang dengan yakin di sana, yang telah menjawab semua pertanyaanku. Tertulis di permukaannya dengan cat warna putuh, sebuah nama jalan, jalan yang sangat familiar di kota itu, hampir semua orang mengenalnya, ya mungkin bisa disebut sebagai pusat kota Yogyakarta, dimana banyak rupiah dapat diperoleh di tempat ini. Ya, inilah JALAN MALIOBORO.    





Tidak ada komentar:

Posting Komentar