SEBUAH JALAN LURUS
Suara
bising mulai melahap senyap. Orang-orang sibuk bercengkrama dengan sekitarnya,
merasakan hitam putihnya kehidupan. Tak peduli dengan apa yang akan
terjadi selanjutnya, karena yang mereka
ketahui hanyalah bagaimana merasakan indahnya menyambung nyawa kehidupan, tuk
hari esok. Anak, cucu, keluarga, sahabat, ya merekalah segala-galanya dalam
kehidupan ini.
* *
Aku terus menyusuri jalan itu,
sebuah jalan lurus yang mengantarkanku dari titik pusat Yogyakarta menuju stasiun
kereta api Tugu. Entah, rasanya jalan
itu terlihat sangat ramai, menari-nari di tengah rasa sesak, kanan kiri
dipenuhi oleh orang-orang yang saling bertransaksi, menukarkan rupiah dengan
berbagai jenis barang yang dijajakan di sepanjang jalan itu. Aku pun dibuat
heran olehnya, tempat apa sebenarnya ini?
Terus kulangkahkan kedua kakiku tuk
membawa tubuhku menyusuri jalan lurus itu, langkah demi langkah kutelusuri
hingga aku menemukan sesuatu, ya sesuatu yang dapat membuka mata dan pikiranku.
Lalu tak jauh kumelangkah, kulihat sekelompok bapak-bapak berkalungkan handuk
kecil tengah menunggu pengunjung datang dengan setia di atas kendaraan roda tiganya.
Setiap kali ada yang lewat di hadapannya, segera dengan semangat mereka
menawarkan “mari becaknya, mau ke bakpia, pusat dagadu, batik, saya antar”
seraya melangkah mendekatinya. Namun apabila tak berhasil satu target, tak
pernah mereka menyerah dan berpurus asa, mereka pun beralih pada target
selanjutnya. Berbagai cara mereka lakukan tuk menarik hati targetnya demi dapat
menyambung nyawa keluarganya. Itulah hidup, siapa
yang terus berusaha maka dia lah yang
akan mendapatkannya.
Kulanjutkan perjalananku, kemudian
tak jauh kumelangkah kutemui di sebelah kanan jejeran warung makan yang
beratapkan tenda besar memanjang di pinggiran jalan itu. Semua pelanggan yang
ingin menikmatinya diharapkan rela untuk duduk lesehan, karena tak ada satu pun bangku yang disediakan untuk
mereka. Namun mungkin itulah yang menjadi daya tarik mereka, sebagai warung
makan di Yogyakarta di malam hari.
Sambil menikmati hidangan, tak lupa
alunan musik yang dimainkan oleh para musisi jalanan pun tutut menambah indah
suasana malam di kota itu, biasanya mereka memilih lagu yang dimainkan sesuai
dengan suasana saat itu sehingga membuat hati pendengar menjadi nyaman. Namun
balasan rupiah lah yang diinginkan oleh mereka dari jari-jari keiklasan para
pendengarnya, tak berharap banyak namun yang mereka inginkan hanyalah rupiah
itu dapat mencukupi kebutuhannya di hari ini, esok, dan selanjutnya.
Kutinggalkan mereka, dan berjalan
terus ke arah stasiun. Kurasakan sepoinya angin yang berhambus di tubuhku,
menambah damai dan sejuknya hati ini. Kemudian sesampainya di stasiun, kuputar
balik tubuhku ke arah jalan lurus itu, tampak jelas sekali sebuah papan nama
jalan yang berwarna hijau terpampang dengan yakin di sana, yang telah menjawab
semua pertanyaanku. Tertulis di permukaannya dengan cat warna putuh, sebuah
nama jalan, jalan yang sangat familiar di kota itu, hampir semua orang mengenalnya,
ya mungkin bisa disebut sebagai pusat kota Yogyakarta, dimana banyak rupiah
dapat diperoleh di tempat ini. Ya, inilah JALAN
MALIOBORO.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar