RUMAH TERAKHIR
Rifki Muhammad Audy
Gelap. Tak ada satupun cahaya yang menyinari tubuhku kali ini. Tanganku, kakiku, seluruh tubuhku tak dapat digerakan lagi. Semuanya terasa begitu berat, seolah tak bertenaga, yang bisa kulakukan hanya diam, dengan tubuh terbaring lemas. Tiba-tiba dari balik kegelapan, datanglah dua makhluk hitam dengan kedua bola mata yang berwarna biru. Perlahan-lahan mereka pun menghampiriku.
* *
Serasa sebuah mimpi. Tatkala kurasa dunia ini begitu terang, penuh dengan cahaya yang menyelimuti seisi ruangan tempatku terbaring kali ini. Masih melekat erat ingatan itu tatkala kemarin sore baru saja aku mengalami sebuah kecelakaan yang sangat dahsyat di sebuah persimpangan raya. Saat itu semuanya terasa begitu gelap, sampai akhirnya aku sadar ketika tubuhku tengah terbaring di dalam ruangan rumah sakit ini.
Kulihat ke sekelilingku, tak ada satupun keluarga yang menemaniku di sini. Ruangan ini terasa begitu sepi, sama sekali tidak menggambarkan bahwa tengah ada seorang pasien yang sedang dirawat. Padahal, sering kali aku menjenguk saudara dan temanku yang tengah dirawat di rumah sakit, tampak jelas sekali bahwa disana begitu banyak keluarga yang menemani dirinya, sampai akhirnya ia tidak merasa kesepian sama sekali. Namun mengapa kali ini berbeda? Aneh.
Tiba-tiba perasaan yang mengganjal itu semakin lama semakin merayap di hatiku. Lalu mengapa tubuhku ini kini terasa ringan sekali? Aku sama sekali tidak merasakan adanya luka sedikit pun di tubuhku, tanganku pun bebas dari infus. Dengan keadaan yang seperti ini, rasanya tubuhku sehat-sehat saja, seperti tidak pernah terjadi hal mengerikan apa-apa yang menimpa tubuhku.
Apa sebenarnya kecelakaan kemarin itu hanya sebuah mimpi? Atau sekaranglah yang hanya sebuah mimpi?
Tak kuhiraukan pertanyaan-pertanyaan itu, lalu aku memutuskan untuk menurunkan kedua kakiku ke atas lantai yang terasa begitu dingin, dan perlahan-lahan kulangkahkan mereka untuk membawa tubuhku ini menuju ke luar ruangan untuk memastikan disanalah keluargaku tengah berada.
Namun sayang, di luar ruangan pun ternyata tak terlihat sama sekali batang hidung satupun keluargaku, yang terlihat hanyalah suster-suster berpakaian serba putih yang silih berganti melintas dihadapanku. Tapi tak tampak sama sekali wajah heran dari mereka tatkala mereka melintas di hadapanku kali ini. Semuanya begitu acuh kepadaku.
Tiba-tiba dari belakang seseorang menepuk pelan pundakku, tangannya terasa dingin sekali. Lalu kuputar balik tubuhku ke arahnya. Ternyata ia adalah seorang nenek tua dengan daster putih yang menutupi tubuh kurusnya, lalu ia tersenyum menatapku. “Tidak usah heran nak kalau melihat orang-orang begitu acuh melihatmu” katanya seranya melepaskan tangan keriputnya dari pundakku.
“Nenek siapa? Memangnya kenapa, Nek?” tanyaku heran.
“Kamu tidak perlu tahu siapa nenek, tapi yang pasti sekarang kita telah memilki nasib yang sama. Namun sayang, spertinya kamu masih terlalu muda untuk mengalami semua ini” jawabnya, malah membuatku tambah heran.
“Maksud nenek apa? Aku tidak mengerti, Nek..”
“Pulanglah sana ke rumahmu. Nanti saat kamu sampai di rumah, kamu akan tahu apa sebenarnya yang telah terjadi pada dirimu..” jelasnya dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Kemudian ia membalikan tubuhnya dan berjalan menjauhiku dengan langkah yang tertatih-tatih.
Seiring dengan nenek itu membalikan tubuhnya, aku pun segera berlari secepat mungkin menuju ke rumahku. Dengan telanjang kaki, kutelusuri jalan aspal hingga aku sampai mendapati sebuah jawaban yang jelas.
* *
Ternyata bendera kuning telah terpajang dengan yakin di batang pagar rumahku. Seolah-olah telah jelas menyampaikan sebuah berita kepadaku bahwa seseorang telah meninggal dunia di dalam rumahku. Wajahnya seakan menampakan ekspresi yang aneh, seperti sedih, heran, bingung, namun juga tersenyum ramah melihatku.
Seluruh tubuhku bergetar, tak bisa kubayangkan wajah seseorang yang tengah berada di balik kain kafan putih itu. Tiba-tiba kakiku terasa begitu lemas, seperti rapuh, hingga tak kuat untuk menopang tubuhku yang berat ini, dan aku pun terjatuh.
Kemudian dari balik pagar, keluarlah berbondong-bondong keluarga dan tetanggaku. Mereka menggotong sebuah kurung batang yang bertutupkan selembar kain hijau. Namun aku masih tak kuasa untuk berdiri, seakan tenagaku telah terkuras habis oleh ketegangan dan ketakutan perasaanku, sehingga aku tak bisa untuk melangkah menghampiri mereka.
Mereka melewatiku dengan acuh, tak ada satu pun yang menghampiriku, semuanya terus berjalan dengan wajah sedihnya. Ayah, dengan tubuh tingginya ia menggotong kurung batang penuh dengan tanda tanya itu bersama paman dan tetanggaku. Ibu, ia menangis tersendu-sendu seraya dirangkul oleh tante dan kakakku. Adik, dengan wajah polosnya berjalan menunduk di samping ayahku.
Aneh rasanya! seluruh penghuni rumahku lengkap. Ayah, ibu, kakak, dan adikku semuanya ada. Lalu siapa yang berada di dalam kurungan itu? Tidak ada seorang pun yang tinggal di rumah itu kecuali kami berlima.
* *
Dengan tubuh yang masih gemetar ketakutan, aku mengikuti langkah mereka yang tengah menggotong jasad itu. Sampai akhirnya kami tiba di tempat tujuan akhir, yaitu sebuah pemakaman umum. Begitu banyak gundukan-gundukan tanah dengan nisan yang terpajang rapih disini. Seolah mereka mengajarkan kepada kami bahwa hidup itu pasti akan berakhir dan berujung di tempat sepi seperti ini. Maka, aku pun menyebutnya sebagai “Rumah Terakhir”.
Kemudian kami menyusuri sebuah jalan setapak di tengah makam-makam itu, sampai kami tiba di sebuah lubang 1 kali 2 meter yang kelak akan dijadikan rumah terakhir bagi jasad yang tengah dipikul itu.
Tiba-tiba, aku dikejutkan oleh sebuah tulisan di permukaan sebuah kayu nisan yang dibawa oleh sepupuku. Tulisan itu membentuk sebuah nama. Nama yang sudah tidak asing lagi bagiku, bahkan hampir sudah mendarah daging denganku. Lalu kubaca berulang-ulang nama itu, kupastikan jelas-jelas, sampai aku benar-benar yakin bahwa aku tidak salah baca. Namaku! Iya! Itu namaku!! Tidak salah lagi, itu namaku! Astaghfirullaah…
Aku segera berlari mendekati sepupuku itu. “Bowo! Apa ini maksudnya?!” Tanyaku berteriak. Namun ia tidak memperdulikanku sama sekali. Lalu aku pun mencoba menahannya dengan memegang pundaknya. Namun seperti sebuah fatamorgana, aku tidak bisa menahannya. Aku tidak bisa menyenuhnya sama sekali. Aku seperti hanya sebuah fatamorgana. Tidak nyata!
Baiklah, aku memngerti sekarang. Jadi kecelakaan yang menimpaku kemarin sore telah menyebabkan rohku ini berpisah dari jasadku. Kini aku telah meninggal dunia. Aku bukanlah aku yang dulu lagi, aku hayalah sebuah roh, yang sebentar lagi akan masuk ke dalam sebuah liang pemakaman, atau rumah terakhir. Dimana rumah itu juga sebagai persimpangan dimana aku harus bersiap diri untuk pergi ke dalam kekekalan yang indah atau kekekalan yang menyakitkan seiring dengan ditiupnya sangkakala..