Rabu, 01 Agustus 2012

KARYA 3D: Menghitung Domba

 MENGHITUNG DOMBA
(dalam kegiatan pameran seni rupa "INSOMNIART" BEKAGE)


Karya Rifki Muhammad Audy

Caption:
Saat insomnia menerpa, hitunglah mereka, maka kau akan dibawanya ke alam mimpi, dimana tak ada lagi pikiran-pikiran yang mengganggu  dari tugas duniawimu, yang ada hanyalah mimpi-mimpi indahmu di tengah malam yang lelap..

SEBUAH JALAN LURUS


SEBUAH JALAN LURUS



Suara bising mulai melahap senyap. Orang-orang sibuk bercengkrama dengan sekitarnya, merasakan hitam putihnya kehidupan. Tak peduli dengan apa yang akan terjadi  selanjutnya, karena yang mereka ketahui hanyalah bagaimana merasakan indahnya menyambung nyawa kehidupan, tuk hari esok. Anak, cucu, keluarga, sahabat, ya merekalah segala-galanya dalam kehidupan ini.
* *
Aku terus menyusuri jalan itu, sebuah jalan lurus yang mengantarkanku dari titik pusat Yogyakarta menuju stasiun kereta api Tugu. Entah, rasanya  jalan itu terlihat sangat ramai, menari-nari di tengah rasa sesak, kanan kiri dipenuhi oleh orang-orang yang saling bertransaksi, menukarkan rupiah dengan berbagai jenis barang yang dijajakan di sepanjang jalan itu. Aku pun dibuat heran olehnya, tempat apa sebenarnya ini?
Terus kulangkahkan kedua kakiku tuk membawa tubuhku menyusuri jalan lurus itu, langkah demi langkah kutelusuri hingga aku menemukan sesuatu, ya sesuatu yang dapat membuka mata dan pikiranku. Lalu tak jauh kumelangkah, kulihat sekelompok bapak-bapak berkalungkan handuk kecil tengah menunggu pengunjung datang dengan setia di atas kendaraan roda tiganya. Setiap kali ada yang lewat di hadapannya, segera dengan semangat mereka menawarkan “mari becaknya, mau ke bakpia, pusat dagadu, batik, saya antar” seraya melangkah mendekatinya. Namun apabila tak berhasil satu target, tak pernah mereka menyerah dan berpurus asa, mereka pun beralih pada target selanjutnya. Berbagai cara mereka lakukan tuk menarik hati targetnya demi dapat menyambung nyawa keluarganya. Itulah hidup, siapa yang terus berusaha maka dia  lah yang akan mendapatkannya.
Kulanjutkan perjalananku, kemudian tak jauh kumelangkah kutemui di sebelah kanan jejeran warung makan yang beratapkan tenda besar memanjang di pinggiran jalan itu. Semua pelanggan yang ingin menikmatinya diharapkan rela untuk duduk lesehan, karena tak ada satu pun bangku yang disediakan untuk mereka. Namun mungkin itulah yang menjadi daya tarik mereka, sebagai warung makan di Yogyakarta di malam hari.
Sambil menikmati hidangan, tak lupa alunan musik yang dimainkan oleh para musisi jalanan pun tutut menambah indah suasana malam di kota itu, biasanya mereka memilih lagu yang dimainkan sesuai dengan suasana saat itu sehingga membuat hati pendengar menjadi nyaman. Namun balasan rupiah lah yang diinginkan oleh mereka dari jari-jari keiklasan para pendengarnya, tak berharap banyak namun yang mereka inginkan hanyalah rupiah itu dapat mencukupi kebutuhannya di hari ini, esok, dan selanjutnya.
Kutinggalkan mereka, dan berjalan terus ke arah stasiun. Kurasakan sepoinya angin yang berhambus di tubuhku, menambah damai dan sejuknya hati ini. Kemudian sesampainya di stasiun, kuputar balik tubuhku ke arah jalan lurus itu, tampak jelas sekali sebuah papan nama jalan yang berwarna hijau terpampang dengan yakin di sana, yang telah menjawab semua pertanyaanku. Tertulis di permukaannya dengan cat warna putuh, sebuah nama jalan, jalan yang sangat familiar di kota itu, hampir semua orang mengenalnya, ya mungkin bisa disebut sebagai pusat kota Yogyakarta, dimana banyak rupiah dapat diperoleh di tempat ini. Ya, inilah JALAN MALIOBORO.    





Pesona Di Balik Kemistisan Kawasan Pesisir Bantul


SAND DUNNES DAN LAVA FLOW
Pesona Di Balik Kemistisan Kawasan Pesisir Bantul
 

Banyak cerita dan kisah berbau mistis yang berasal dari kawasan pesisir bantul. Khususnya pantai selatan kota Yogyakarta yang konon katanya dikuasai oleh sang penguasa laut selatan, Nyai Roro Kidul. Sosoknya yang begitu misterius sudah tak dapat dipisahkan lagi dengan kepercayaan budaya masyarakat sekitar pantai selatan pulau Jawa. Namun di balik semua itu, pesisir Bantul juga memiliki pesona kenampakan alam yang sangat istimewa dan tidak dimiliki oleh kawasan lain, bahkan satu-satunya di Indonesia.
Beberapa minggu yang lalu, Fakultas Geografi UGM menugaskan kepada seluruh mahasiswa semester 2 Fakultas Geografi  UGM untuk melakukan survey lapangan dalam mata kuliah KKL-1 (Kuliah Kerja lapangan ke 1). Kegiatan ini bertujuan agar mahasiswa dapat memahami konsepsi bentanglahan secara benar. Dari sekian banyak mahasiswa tersebut, dibagi menjadi beberapa kelompok dengan kawasan pengamatan yang berbeda-beda. Salah satu kawasan pengamatan yang diamati adalah kawasan pesisir Bantul yang diamati oleh kelompok kami (kelompok F2) dengan bimbingan dari salah satu dosen fakultas Geografi UGM, Dr. Langgeng Wahyu Santosa, M.Si.
Beberapa anggota kelompok F2 di Pantai Depok (Pesisir Bantul)

Salah satu kenampakan yang kami amati adalah sand dunes (gumuk pasir), yang berada di sebelah barat Pantai Parangtritis. Fenomena sand dunnes ini sangat unik, dikarenakan pada awalnya sand dunnes belum pernah ditemukan pada daerah yang beriklim tropis, namun di Indonesia yang pada dasarnya memiliki iklim tropis dapat ditemukan adanya kenampakan sand dunnes ini.  Sand dunnes ini banyak dimanfaatkan sebagai tempat wisata, pembuatan video clip, pemotretan pre wedding, serta sebagai tempat latihan manasik haji.
Sand Dunnes (Gumuk Pasir)
Di kawasan sand dunnes ini juga terdapat sebuah laboratorium hasil kerjasama sekaligus dikelola oleh Bakosurtanal, Pemerintah Kabupaten Bantul, dan Fakultas Geografi UGM, yang kemudian dinamai sebagai Laboratorium Geospasial. Laboratorium ini merupakan satu-satunya laboratorium geospasial pesisir di Indonesia, dangan fungsi antara lain untuk melakukan survey dan pemetaan wilayah pesisir, pusat informasi geospasial pesisir, juga untuk menjaga keberadaan gumuk pasir.
Beberapa anggota kelompok F2 di Laboralorium Geospasial

Selain gumuk pasir, kami juga mengamati kenampakan aliran lava atau yang biasa disebut dengan lava flow. Oleh beberapa masyarakat yang mempercayainya, fenomena atau kenampakan ini dianggap sebagai sesuatu yang sakral, sehingga aliran lava ini juga dijadikan sebagai tempat wisata budaya dengan dibangunkannya kompleks khusus di kawasan lava flow ini.
Lava Flow

Menurut juru kunci lava flow, Mbah Surakso Merso, batu ini dulunya digunakan sebagai tempat bertapa Panembahan Senopati agar bisa bertemu dengan Nyai Roro Kidul untuk mengungkapkan keinginannya untuk memimpin Mataram dan hal tersebut terkabulkan. Pada umumnya tempat ini ramai dikunjungi oleh para peziarah pada jumat kliwon, selasa kliwon dan malam suro. Selain hari-hari itu setiap tanggal 30 Rajab diadakan upacara Labuhan oleh masyarakat Jawa di tempat tersebut, yang merupakan peringatan terhadap hari ketika Panembahan Senopati bertapa.
Namun secara ilmiah, aliran lava ini terbentuk dari medan vulkanis yang mengalami deposisi dari ekstrusi gunung api bawah laut. Lava ini termasuk dalam kegiatan gunung api pertama di Jawa yakni pada akhir zaman Oligosen atau awal Miosen. Adanya letusan gunung api purba yang mengeluarkan lava dan magma dari gunung api tersebut mengalami proses pembekuan. Gunung api purba dulu terletak di laut sehingga lelehan magma tersebut mengalir ke dasar laut dan membeku didasar laut dan membentuk lava flow. Letak lava flow yang sekarang terletak di daratan dikarenakan adanya proses pengangkatan akibat tabrakan dari lempeng Hindia-Australia dengan lempeng Eurasia. 


Tulisan ini juga bisa dilihat di:
 http://citizen6.liputan6.com/read/409170/pesona-kemistisan-kawasan-pesisir-bantul

PUISI: BIMBANG-DUA DUNIA

Puisi ini dibuat dalam pemenuhan tugas MOP, sebenernya ga disuruh bikin puisi juga sih cuma tulisan tentang "Mahasiswa Ideal" aja. Ini buat iseng-iseng sekalian belajar aja, tapi ga tau jadinya puisi apa kaya gini haha.  mudah-mudahan ga jelek-jelek amat deh, amiin..

 BIMBANG-DUA DUNIA

Ombak menggulung penuh amarah
Petir gemuruh membawa kekelaman
Badai, angin kencang seolah ia pun mengamuk
Mengalir, menarik, mendorong tubuhku
Bimbang, di dunia tak tentu arah
Bimbang, di dunia yang penuh pilihan
berbeda..

Menatap lurus kedua bola mataku ke dunia luar di hadapanku
Dunia luas dengan penuh ralitas-realitas kehidupan nyata
Menari-nari seraya menarikku masuk ke dunia di dalamnya
Memberiku seteguk air pengalaman
Menghadapi masa depan yang penuh perjuangan
Hidup – Bahagia – Terang – Derita – Gelap – atau Mati

Ah, tak perlu ku menyanjungnya seperti itu!
Ia juga lah sang pelaku perusak dunia dalam ku ini
Membuatku lupa akan segalanya yang ada di dunia ini
Dunia yang telah memberiku seteguk air ilmu
Ilmu yang masuk melalui celah mata dan telingaku
Ya, ilmu yang telah kutetapkan sejak awal hidupku
Hidupku di dunia ruang ini
Ruang yang terisi oleh bangku dan pena

Entah, dunia mana yang harus kupilih
Bimbang, antara dua dunia yang berbeda
Salah mengambil langkah akan menjatuhkan jiwaku
Jatuh, ke dalam lobang kekelaman
Meninggalkan sesal bersamanya

Terdengar bisik-bisik bibir lincah berbicara
“Ilmu! ia lebih penting!”
“Tidak, pengalaman lah yang menentukan segalanya!”
Ya, mereka bertengkar dalam ketidakpastian
Memenangkan ego tanpa melihat ke depan
Dunia yang luas dan jelas..

Tak lama,
Sinar cerah mulai melahap kegelapan
Melahap tanpa meninggalkan sisa
Berbisik penuh kepastian
Menghapus seluruh kebimbangan
“Salah, keduanya lah yang lebih baik
Melangkah bersama
tak ada yang ditinggalkan
Mereka lah pegangan jembatan keseimbanganmu
Tak ada yang lebih berat di antara keduanya
Hingga mengantarkanmu ke masa depan
Masa depan yang lebih baik..”

Sabtu, 14 Juli 2012

KUNJUNGAN MEDIA KE SOLOPOS

Siapa yang tak kenal dengan kota Solo, kota yang berhiaskan citra sebagai pusat kebudayaan budaya Jawa, The Spirit of Java. Bila melihat budaya kota Solo seakan kita akan melihat budaya Jawa, seolah ia pun dapat dipandang sebagai model kebudayaan budaya Jawa. Banyak kebudayaan dan daya tarik pariwisata yang lahir dan berkembang di kota ini, membuatnya semakin dikenal oleh para wisatawan, baik lokal maupun asing. Lokasinya yang sangat strategis juga sangat membantu akan citranya tersebut akan tercipta. 

Lalu ada apa lagi yang bisa kita pelajari dari Solo? heemm.. sebagai mahasiswa yang bergerak di bidang media mahasiswa, akan menjawab “Surat Kabar!!”. Namun ada beberapa surat kabar yang berdiri dan beroperasi di daerah kota Solo ini (tidak tahu pastinya berapa), oleh karena itu untuk fungsi efisiensi waktu dan tenaga, dipilihlah satu surat kabar yang akan aku kunjungi bersama teman-teman departemen media opini publik BEM KM FGE UGM, yaitu SOLOPOS. Kemudian kami beri nama kegiatan tersebut dengan nama “Kunjungan Media ke SOLOPOS” 



Namun sepi rasanya bila hanya kami bersepuluh (anggota media opini publik) yang berangkat ke solopos ini, oleh karena itu kami pun berinisiatif untuk mengajak UKM dan HMJ lain untuk ikut bersama kami. Alhasil inilah kami yang berangkat ke SOLOPOS:


  
Kalau yang ini anak-anak media opini publik nya (ditambah mas tama, tapi dia ga bisa ikut):
 










Sesampainya di SOLOPOS, kami pun dibawa masuk ke dalam sebuah ruangan yang tidak begitu luas dengan penataan meja yang melingkar di tengah ruangan tersebut. Lalu kami duduk di masing-masing kursi yang melingkari meja besar tersebut. “Heem.. seperti ruang rapat” pikirku. Agak lama kami menunggu narasumber yang akan memberi materi kepada kami, dan hanya diberi hiburan sebuah tayangan iklan SOLOPOS yang dipancarkan dari sebuah proyektor, “solo… solo... solo..” ya hanya satu kata itulah yang diucapkan dari sekian banyak model-model iklan yang bergantian mejeng di iklan tersebut, sedikit membuatku geli memang hahaa.

Kemudian datanglah seorang mas-mas barpakaian seragam SOLOPOS berwarna biru, menurut beberapa temanku ia bernama Krisna, namun seingatku bukan Krisna namanya, tapi aku juga tidak tahu. Yasudahlah, ga terlalu penting juga, pokoknya orangnya yang ini deh: (maaf mas namanya agak terlupa..)






Kemudian ia bercerita banyak tentang SOLOPOS dan media, namun lebih fokus ke SOLOPOS-nya, mulai dari sejarahnya sampai ke mekanisme keredaksiannya. Ya, surat kabar yang pertama kali terbit pada tanggal 19 September 1997 ini memiliki sistem yang sama dengan sistem-sistem kerja lainnya, yaitu dibagi menjadi beberapa bagian yang memiliki fungsi dan tugasnya masing-masing namun tetap saling berkaitan.
Untuk keredaksiannya, redaksi dibagi menjadi bebarapa bagian yang tiap bagiannya dipengang oleh redaktur. Kemudian redaktur bertanggungjawab atas beberapa wartawan, yang wartawan tersebut tiap harinya harus mencari berita semenarik mungkin, minimal sekitar 2-3 berita tiap harinya. Kemudian setelah wartawan mendapatkan berita, dari berbagai sumber (Peristiwa, VSAT, Internet, Naskah Setter, Foto) ia bertugas untuk mengumpulkannya  ke redaktur dengan deadline pukul 16.00 WIB. Setelah redaktur menerimanya, kemudian dirapatkan dengan pemimpin redaksi untuk memutuskan berita mana yang layak untuk diterbitkan dan mana yang tidak layak untuk diterbitkan. 
Setelah hasil rapat telah ditentukan, kemudian dilakukan proses layouting. Lalu pada pukul 01.00 WIB proses penyetakan dilakukan  di tempat yang seperti ini:






Kemudian setelah proses percetakan selesai, Koran pun didistribusikan ke rumah-rumah pembaca. 

Seusai dari SOLOPOS, kami pun berwisata kuliner (eh engga juga sih, cuma makan di satu tempat di pinggir jalan gitu haha) dan berwisata di Taman Balekambang. Setelah itu baru lah kami pulang ke Kampus. Males ngejelasinnya, liat beberapa foto-fotonya aja ya..



Selasa, 12 Juni 2012

Terlambat? Lebih baik dari pada tidak sama sekali..

Berat memang rasanya untuk memulai sesuatu hal yang baru, seperti halnya aku yang baru memulai (mungkin lebih tepatnya melanjutkan) blog ini. Terbesit sebuah kata "TERLAMBAT" dalam benakku, saat ingin kulanjutkan blog ini, dulu sebelum aku memasuki dunia kampus seperti saat ini.

Namun, teringat kembali akan cita-citaku sejak kecil, menjadi seorang penulis. Ya, semakin lama kutinggalkan pekerjaan menulis ini, maka akan semakin tumpul bakat menulis yang telah kumiliki, yang telah memiliki berbagai cerita dan kisah dalam dunia kepenulisan ini.
Ah, tak akan kuterlibat dalam situasi itu.

"Syarat untuk menjadi penulis ada tiga, yaitu: menulis, menulis, menulis (Kuntowijoyo)" dengan begitu, tak ada cara lain untuk menjadi seorang penulis apabila kita tetap tidak ingin membiasakan menulis. harus menulis!

"Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis (Imam Al-Ghazali)" Apabila kita ingin dikenal dan dikenang, jadilah seorang yang memiliki tulisan (penulis), dengan memberikan informasi yang 'mengena' bagi masyarakat. Tidak ada satu pun dati kita yang tahu kapan umur kita akan berakhir, dan apabila masa kita telah usai, namun kita tidak memiliki tulisan, bagaimana kita bisa dikenang? yang ada kita akan hilang begitu saja, tak ada yang mengingat kita. Mungkin untuk 50 tahun pertama nama kita masih dikenang oleh saudara dan sahabat kita, tapi bagaimana untuk kedepannya saat mereka semua telah usai pula?

Jadi, mari mulailah menulis. Terlambat? Hmm lebih baik daripada tidak sama sekali!

Minggu, 04 Maret 2012

CERPEN: Rumah Terakhir


RUMAH TERAKHIR
Rifki Muhammad Audy
  
           Gelap. Tak ada satupun cahaya yang menyinari tubuhku kali ini. Tanganku, kakiku, seluruh tubuhku tak dapat digerakan lagi. Semuanya terasa begitu berat, seolah tak bertenaga, yang bisa kulakukan hanya diam, dengan tubuh terbaring lemas. Tiba-tiba dari balik kegelapan, datanglah dua makhluk hitam dengan kedua bola mata yang berwarna biru. Perlahan-lahan mereka pun menghampiriku.
* *
Serasa sebuah mimpi. Tatkala kurasa dunia ini begitu terang, penuh dengan cahaya yang menyelimuti seisi ruangan tempatku terbaring kali ini. Masih melekat erat ingatan itu tatkala kemarin sore baru saja aku mengalami sebuah kecelakaan yang sangat dahsyat di sebuah persimpangan raya. Saat itu semuanya terasa begitu gelap, sampai akhirnya aku sadar ketika tubuhku tengah terbaring di dalam ruangan rumah sakit ini.
Kulihat ke sekelilingku, tak ada satupun keluarga yang menemaniku di sini. Ruangan ini terasa begitu sepi, sama sekali tidak menggambarkan bahwa tengah ada seorang pasien yang sedang dirawat. Padahal, sering kali aku menjenguk saudara dan temanku yang tengah dirawat di rumah sakit, tampak jelas sekali bahwa disana begitu banyak keluarga yang menemani dirinya, sampai akhirnya ia tidak merasa kesepian sama sekali. Namun mengapa kali ini berbeda? Aneh.
Tiba-tiba perasaan yang mengganjal itu semakin lama semakin merayap di hatiku. Lalu mengapa tubuhku ini kini terasa ringan sekali? Aku sama sekali tidak merasakan adanya luka sedikit pun di tubuhku, tanganku pun bebas dari infus. Dengan keadaan yang seperti ini, rasanya tubuhku sehat-sehat saja, seperti tidak pernah terjadi hal mengerikan apa-apa yang menimpa tubuhku.
Apa sebenarnya kecelakaan kemarin itu hanya sebuah mimpi? Atau sekaranglah yang hanya sebuah mimpi?
Tak kuhiraukan pertanyaan-pertanyaan itu, lalu aku memutuskan untuk menurunkan kedua kakiku ke atas lantai yang terasa begitu dingin, dan perlahan-lahan kulangkahkan mereka untuk membawa tubuhku ini menuju ke luar ruangan untuk memastikan disanalah keluargaku tengah berada.
Namun sayang, di luar ruangan pun ternyata tak terlihat sama sekali batang hidung satupun keluargaku, yang terlihat hanyalah suster-suster berpakaian serba putih yang silih berganti melintas dihadapanku. Tapi tak tampak sama sekali wajah heran dari mereka tatkala mereka melintas di hadapanku kali ini. Semuanya begitu acuh kepadaku.
Tiba-tiba dari belakang seseorang menepuk pelan pundakku, tangannya terasa dingin sekali. Lalu kuputar balik tubuhku ke arahnya. Ternyata ia adalah seorang nenek tua dengan daster putih yang menutupi tubuh kurusnya, lalu ia tersenyum menatapku. “Tidak usah heran nak kalau melihat orang-orang begitu acuh melihatmu” katanya seranya melepaskan tangan keriputnya dari pundakku.
“Nenek siapa? Memangnya kenapa, Nek?” tanyaku heran.
“Kamu tidak perlu tahu siapa nenek, tapi yang pasti sekarang kita telah memilki nasib yang sama. Namun sayang, spertinya kamu masih terlalu muda untuk mengalami semua ini” jawabnya, malah membuatku tambah heran.
“Maksud nenek apa? Aku tidak mengerti, Nek..”
           “Pulanglah sana ke rumahmu. Nanti saat kamu sampai di rumah, kamu akan tahu apa sebenarnya yang telah terjadi pada dirimu..” jelasnya dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Kemudian ia membalikan tubuhnya dan berjalan menjauhiku dengan langkah yang tertatih-tatih.
Seiring dengan nenek itu membalikan tubuhnya, aku pun segera berlari secepat mungkin menuju ke rumahku. Dengan telanjang kaki, kutelusuri jalan aspal hingga aku sampai mendapati sebuah jawaban yang jelas.
* *
            Ternyata bendera kuning telah terpajang dengan yakin di batang pagar rumahku. Seolah-olah telah jelas menyampaikan sebuah berita kepadaku bahwa seseorang telah meninggal dunia di dalam rumahku. Wajahnya seakan menampakan ekspresi yang aneh, seperti sedih, heran, bingung, namun juga tersenyum ramah melihatku. 
            Seluruh tubuhku bergetar, tak bisa kubayangkan wajah seseorang yang tengah berada di balik kain kafan putih itu. Tiba-tiba kakiku terasa begitu lemas, seperti rapuh, hingga tak kuat untuk menopang tubuhku yang berat ini, dan aku pun terjatuh.
            Kemudian dari balik pagar, keluarlah berbondong-bondong keluarga dan tetanggaku. Mereka menggotong sebuah kurung batang yang bertutupkan selembar kain hijau. Namun aku masih tak kuasa untuk berdiri, seakan tenagaku telah terkuras habis oleh ketegangan dan ketakutan perasaanku, sehingga aku tak bisa untuk melangkah menghampiri mereka.
Mereka melewatiku dengan acuh, tak ada satu pun yang menghampiriku, semuanya terus berjalan dengan wajah sedihnya. Ayah, dengan tubuh tingginya ia menggotong kurung batang penuh dengan tanda tanya itu bersama paman dan tetanggaku. Ibu, ia menangis tersendu-sendu seraya dirangkul oleh tante dan kakakku. Adik, dengan wajah polosnya berjalan menunduk di samping ayahku.
Aneh rasanya! seluruh penghuni rumahku lengkap. Ayah, ibu, kakak, dan adikku semuanya ada. Lalu siapa yang berada di dalam kurungan itu? Tidak ada seorang pun yang tinggal di rumah itu kecuali kami berlima.
* *
            Dengan tubuh yang masih gemetar ketakutan, aku mengikuti langkah mereka yang tengah menggotong jasad itu. Sampai akhirnya kami tiba di tempat tujuan akhir, yaitu sebuah pemakaman umum. Begitu banyak gundukan-gundukan tanah dengan nisan yang terpajang rapih disini. Seolah mereka mengajarkan kepada kami bahwa hidup itu pasti akan berakhir dan berujung di tempat sepi seperti ini. Maka, aku pun menyebutnya sebagai “Rumah Terakhir”.
Kemudian kami menyusuri sebuah jalan setapak di tengah makam-makam itu, sampai kami tiba di sebuah lubang 1 kali 2 meter yang kelak akan dijadikan rumah terakhir bagi jasad yang tengah dipikul itu.
Tiba-tiba, aku dikejutkan oleh sebuah tulisan di permukaan sebuah kayu nisan yang dibawa oleh sepupuku. Tulisan itu membentuk sebuah nama. Nama yang sudah tidak asing lagi bagiku, bahkan hampir sudah mendarah daging denganku. Lalu kubaca berulang-ulang nama itu, kupastikan jelas-jelas, sampai aku benar-benar yakin bahwa aku tidak salah baca. Namaku! Iya! Itu namaku!! Tidak salah lagi, itu namaku! Astaghfirullaah…
Aku segera berlari mendekati sepupuku itu. “Bowo! Apa ini maksudnya?!” Tanyaku berteriak. Namun ia tidak memperdulikanku sama sekali. Lalu aku pun mencoba menahannya dengan memegang pundaknya. Namun seperti sebuah fatamorgana, aku tidak bisa menahannya. Aku tidak bisa menyenuhnya sama sekali. Aku seperti hanya sebuah fatamorgana. Tidak nyata!
Baiklah, aku memngerti sekarang. Jadi kecelakaan yang menimpaku kemarin sore telah menyebabkan rohku ini berpisah dari jasadku. Kini aku telah meninggal dunia. Aku bukanlah aku yang dulu lagi, aku hayalah sebuah roh, yang sebentar lagi akan masuk ke dalam sebuah liang pemakaman, atau rumah terakhir. Dimana rumah itu juga sebagai persimpangan dimana aku harus bersiap diri untuk pergi ke dalam kekekalan yang indah atau kekekalan yang menyakitkan seiring dengan ditiupnya sangkakala..