Rabu, 01 Agustus 2012

Pesona Di Balik Kemistisan Kawasan Pesisir Bantul


SAND DUNNES DAN LAVA FLOW
Pesona Di Balik Kemistisan Kawasan Pesisir Bantul
 

Banyak cerita dan kisah berbau mistis yang berasal dari kawasan pesisir bantul. Khususnya pantai selatan kota Yogyakarta yang konon katanya dikuasai oleh sang penguasa laut selatan, Nyai Roro Kidul. Sosoknya yang begitu misterius sudah tak dapat dipisahkan lagi dengan kepercayaan budaya masyarakat sekitar pantai selatan pulau Jawa. Namun di balik semua itu, pesisir Bantul juga memiliki pesona kenampakan alam yang sangat istimewa dan tidak dimiliki oleh kawasan lain, bahkan satu-satunya di Indonesia.
Beberapa minggu yang lalu, Fakultas Geografi UGM menugaskan kepada seluruh mahasiswa semester 2 Fakultas Geografi  UGM untuk melakukan survey lapangan dalam mata kuliah KKL-1 (Kuliah Kerja lapangan ke 1). Kegiatan ini bertujuan agar mahasiswa dapat memahami konsepsi bentanglahan secara benar. Dari sekian banyak mahasiswa tersebut, dibagi menjadi beberapa kelompok dengan kawasan pengamatan yang berbeda-beda. Salah satu kawasan pengamatan yang diamati adalah kawasan pesisir Bantul yang diamati oleh kelompok kami (kelompok F2) dengan bimbingan dari salah satu dosen fakultas Geografi UGM, Dr. Langgeng Wahyu Santosa, M.Si.
Beberapa anggota kelompok F2 di Pantai Depok (Pesisir Bantul)

Salah satu kenampakan yang kami amati adalah sand dunes (gumuk pasir), yang berada di sebelah barat Pantai Parangtritis. Fenomena sand dunnes ini sangat unik, dikarenakan pada awalnya sand dunnes belum pernah ditemukan pada daerah yang beriklim tropis, namun di Indonesia yang pada dasarnya memiliki iklim tropis dapat ditemukan adanya kenampakan sand dunnes ini.  Sand dunnes ini banyak dimanfaatkan sebagai tempat wisata, pembuatan video clip, pemotretan pre wedding, serta sebagai tempat latihan manasik haji.
Sand Dunnes (Gumuk Pasir)
Di kawasan sand dunnes ini juga terdapat sebuah laboratorium hasil kerjasama sekaligus dikelola oleh Bakosurtanal, Pemerintah Kabupaten Bantul, dan Fakultas Geografi UGM, yang kemudian dinamai sebagai Laboratorium Geospasial. Laboratorium ini merupakan satu-satunya laboratorium geospasial pesisir di Indonesia, dangan fungsi antara lain untuk melakukan survey dan pemetaan wilayah pesisir, pusat informasi geospasial pesisir, juga untuk menjaga keberadaan gumuk pasir.
Beberapa anggota kelompok F2 di Laboralorium Geospasial

Selain gumuk pasir, kami juga mengamati kenampakan aliran lava atau yang biasa disebut dengan lava flow. Oleh beberapa masyarakat yang mempercayainya, fenomena atau kenampakan ini dianggap sebagai sesuatu yang sakral, sehingga aliran lava ini juga dijadikan sebagai tempat wisata budaya dengan dibangunkannya kompleks khusus di kawasan lava flow ini.
Lava Flow

Menurut juru kunci lava flow, Mbah Surakso Merso, batu ini dulunya digunakan sebagai tempat bertapa Panembahan Senopati agar bisa bertemu dengan Nyai Roro Kidul untuk mengungkapkan keinginannya untuk memimpin Mataram dan hal tersebut terkabulkan. Pada umumnya tempat ini ramai dikunjungi oleh para peziarah pada jumat kliwon, selasa kliwon dan malam suro. Selain hari-hari itu setiap tanggal 30 Rajab diadakan upacara Labuhan oleh masyarakat Jawa di tempat tersebut, yang merupakan peringatan terhadap hari ketika Panembahan Senopati bertapa.
Namun secara ilmiah, aliran lava ini terbentuk dari medan vulkanis yang mengalami deposisi dari ekstrusi gunung api bawah laut. Lava ini termasuk dalam kegiatan gunung api pertama di Jawa yakni pada akhir zaman Oligosen atau awal Miosen. Adanya letusan gunung api purba yang mengeluarkan lava dan magma dari gunung api tersebut mengalami proses pembekuan. Gunung api purba dulu terletak di laut sehingga lelehan magma tersebut mengalir ke dasar laut dan membeku didasar laut dan membentuk lava flow. Letak lava flow yang sekarang terletak di daratan dikarenakan adanya proses pengangkatan akibat tabrakan dari lempeng Hindia-Australia dengan lempeng Eurasia. 


Tulisan ini juga bisa dilihat di:
 http://citizen6.liputan6.com/read/409170/pesona-kemistisan-kawasan-pesisir-bantul

PUISI: BIMBANG-DUA DUNIA

Puisi ini dibuat dalam pemenuhan tugas MOP, sebenernya ga disuruh bikin puisi juga sih cuma tulisan tentang "Mahasiswa Ideal" aja. Ini buat iseng-iseng sekalian belajar aja, tapi ga tau jadinya puisi apa kaya gini haha.  mudah-mudahan ga jelek-jelek amat deh, amiin..

 BIMBANG-DUA DUNIA

Ombak menggulung penuh amarah
Petir gemuruh membawa kekelaman
Badai, angin kencang seolah ia pun mengamuk
Mengalir, menarik, mendorong tubuhku
Bimbang, di dunia tak tentu arah
Bimbang, di dunia yang penuh pilihan
berbeda..

Menatap lurus kedua bola mataku ke dunia luar di hadapanku
Dunia luas dengan penuh ralitas-realitas kehidupan nyata
Menari-nari seraya menarikku masuk ke dunia di dalamnya
Memberiku seteguk air pengalaman
Menghadapi masa depan yang penuh perjuangan
Hidup – Bahagia – Terang – Derita – Gelap – atau Mati

Ah, tak perlu ku menyanjungnya seperti itu!
Ia juga lah sang pelaku perusak dunia dalam ku ini
Membuatku lupa akan segalanya yang ada di dunia ini
Dunia yang telah memberiku seteguk air ilmu
Ilmu yang masuk melalui celah mata dan telingaku
Ya, ilmu yang telah kutetapkan sejak awal hidupku
Hidupku di dunia ruang ini
Ruang yang terisi oleh bangku dan pena

Entah, dunia mana yang harus kupilih
Bimbang, antara dua dunia yang berbeda
Salah mengambil langkah akan menjatuhkan jiwaku
Jatuh, ke dalam lobang kekelaman
Meninggalkan sesal bersamanya

Terdengar bisik-bisik bibir lincah berbicara
“Ilmu! ia lebih penting!”
“Tidak, pengalaman lah yang menentukan segalanya!”
Ya, mereka bertengkar dalam ketidakpastian
Memenangkan ego tanpa melihat ke depan
Dunia yang luas dan jelas..

Tak lama,
Sinar cerah mulai melahap kegelapan
Melahap tanpa meninggalkan sisa
Berbisik penuh kepastian
Menghapus seluruh kebimbangan
“Salah, keduanya lah yang lebih baik
Melangkah bersama
tak ada yang ditinggalkan
Mereka lah pegangan jembatan keseimbanganmu
Tak ada yang lebih berat di antara keduanya
Hingga mengantarkanmu ke masa depan
Masa depan yang lebih baik..”

Sabtu, 14 Juli 2012

KUNJUNGAN MEDIA KE SOLOPOS

Siapa yang tak kenal dengan kota Solo, kota yang berhiaskan citra sebagai pusat kebudayaan budaya Jawa, The Spirit of Java. Bila melihat budaya kota Solo seakan kita akan melihat budaya Jawa, seolah ia pun dapat dipandang sebagai model kebudayaan budaya Jawa. Banyak kebudayaan dan daya tarik pariwisata yang lahir dan berkembang di kota ini, membuatnya semakin dikenal oleh para wisatawan, baik lokal maupun asing. Lokasinya yang sangat strategis juga sangat membantu akan citranya tersebut akan tercipta. 

Lalu ada apa lagi yang bisa kita pelajari dari Solo? heemm.. sebagai mahasiswa yang bergerak di bidang media mahasiswa, akan menjawab “Surat Kabar!!”. Namun ada beberapa surat kabar yang berdiri dan beroperasi di daerah kota Solo ini (tidak tahu pastinya berapa), oleh karena itu untuk fungsi efisiensi waktu dan tenaga, dipilihlah satu surat kabar yang akan aku kunjungi bersama teman-teman departemen media opini publik BEM KM FGE UGM, yaitu SOLOPOS. Kemudian kami beri nama kegiatan tersebut dengan nama “Kunjungan Media ke SOLOPOS” 



Namun sepi rasanya bila hanya kami bersepuluh (anggota media opini publik) yang berangkat ke solopos ini, oleh karena itu kami pun berinisiatif untuk mengajak UKM dan HMJ lain untuk ikut bersama kami. Alhasil inilah kami yang berangkat ke SOLOPOS:


  
Kalau yang ini anak-anak media opini publik nya (ditambah mas tama, tapi dia ga bisa ikut):
 










Sesampainya di SOLOPOS, kami pun dibawa masuk ke dalam sebuah ruangan yang tidak begitu luas dengan penataan meja yang melingkar di tengah ruangan tersebut. Lalu kami duduk di masing-masing kursi yang melingkari meja besar tersebut. “Heem.. seperti ruang rapat” pikirku. Agak lama kami menunggu narasumber yang akan memberi materi kepada kami, dan hanya diberi hiburan sebuah tayangan iklan SOLOPOS yang dipancarkan dari sebuah proyektor, “solo… solo... solo..” ya hanya satu kata itulah yang diucapkan dari sekian banyak model-model iklan yang bergantian mejeng di iklan tersebut, sedikit membuatku geli memang hahaa.

Kemudian datanglah seorang mas-mas barpakaian seragam SOLOPOS berwarna biru, menurut beberapa temanku ia bernama Krisna, namun seingatku bukan Krisna namanya, tapi aku juga tidak tahu. Yasudahlah, ga terlalu penting juga, pokoknya orangnya yang ini deh: (maaf mas namanya agak terlupa..)






Kemudian ia bercerita banyak tentang SOLOPOS dan media, namun lebih fokus ke SOLOPOS-nya, mulai dari sejarahnya sampai ke mekanisme keredaksiannya. Ya, surat kabar yang pertama kali terbit pada tanggal 19 September 1997 ini memiliki sistem yang sama dengan sistem-sistem kerja lainnya, yaitu dibagi menjadi beberapa bagian yang memiliki fungsi dan tugasnya masing-masing namun tetap saling berkaitan.
Untuk keredaksiannya, redaksi dibagi menjadi bebarapa bagian yang tiap bagiannya dipengang oleh redaktur. Kemudian redaktur bertanggungjawab atas beberapa wartawan, yang wartawan tersebut tiap harinya harus mencari berita semenarik mungkin, minimal sekitar 2-3 berita tiap harinya. Kemudian setelah wartawan mendapatkan berita, dari berbagai sumber (Peristiwa, VSAT, Internet, Naskah Setter, Foto) ia bertugas untuk mengumpulkannya  ke redaktur dengan deadline pukul 16.00 WIB. Setelah redaktur menerimanya, kemudian dirapatkan dengan pemimpin redaksi untuk memutuskan berita mana yang layak untuk diterbitkan dan mana yang tidak layak untuk diterbitkan. 
Setelah hasil rapat telah ditentukan, kemudian dilakukan proses layouting. Lalu pada pukul 01.00 WIB proses penyetakan dilakukan  di tempat yang seperti ini:






Kemudian setelah proses percetakan selesai, Koran pun didistribusikan ke rumah-rumah pembaca. 

Seusai dari SOLOPOS, kami pun berwisata kuliner (eh engga juga sih, cuma makan di satu tempat di pinggir jalan gitu haha) dan berwisata di Taman Balekambang. Setelah itu baru lah kami pulang ke Kampus. Males ngejelasinnya, liat beberapa foto-fotonya aja ya..



Selasa, 12 Juni 2012

Terlambat? Lebih baik dari pada tidak sama sekali..

Berat memang rasanya untuk memulai sesuatu hal yang baru, seperti halnya aku yang baru memulai (mungkin lebih tepatnya melanjutkan) blog ini. Terbesit sebuah kata "TERLAMBAT" dalam benakku, saat ingin kulanjutkan blog ini, dulu sebelum aku memasuki dunia kampus seperti saat ini.

Namun, teringat kembali akan cita-citaku sejak kecil, menjadi seorang penulis. Ya, semakin lama kutinggalkan pekerjaan menulis ini, maka akan semakin tumpul bakat menulis yang telah kumiliki, yang telah memiliki berbagai cerita dan kisah dalam dunia kepenulisan ini.
Ah, tak akan kuterlibat dalam situasi itu.

"Syarat untuk menjadi penulis ada tiga, yaitu: menulis, menulis, menulis (Kuntowijoyo)" dengan begitu, tak ada cara lain untuk menjadi seorang penulis apabila kita tetap tidak ingin membiasakan menulis. harus menulis!

"Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis (Imam Al-Ghazali)" Apabila kita ingin dikenal dan dikenang, jadilah seorang yang memiliki tulisan (penulis), dengan memberikan informasi yang 'mengena' bagi masyarakat. Tidak ada satu pun dati kita yang tahu kapan umur kita akan berakhir, dan apabila masa kita telah usai, namun kita tidak memiliki tulisan, bagaimana kita bisa dikenang? yang ada kita akan hilang begitu saja, tak ada yang mengingat kita. Mungkin untuk 50 tahun pertama nama kita masih dikenang oleh saudara dan sahabat kita, tapi bagaimana untuk kedepannya saat mereka semua telah usai pula?

Jadi, mari mulailah menulis. Terlambat? Hmm lebih baik daripada tidak sama sekali!

Minggu, 04 Maret 2012

CERPEN: Rumah Terakhir


RUMAH TERAKHIR
Rifki Muhammad Audy
  
           Gelap. Tak ada satupun cahaya yang menyinari tubuhku kali ini. Tanganku, kakiku, seluruh tubuhku tak dapat digerakan lagi. Semuanya terasa begitu berat, seolah tak bertenaga, yang bisa kulakukan hanya diam, dengan tubuh terbaring lemas. Tiba-tiba dari balik kegelapan, datanglah dua makhluk hitam dengan kedua bola mata yang berwarna biru. Perlahan-lahan mereka pun menghampiriku.
* *
Serasa sebuah mimpi. Tatkala kurasa dunia ini begitu terang, penuh dengan cahaya yang menyelimuti seisi ruangan tempatku terbaring kali ini. Masih melekat erat ingatan itu tatkala kemarin sore baru saja aku mengalami sebuah kecelakaan yang sangat dahsyat di sebuah persimpangan raya. Saat itu semuanya terasa begitu gelap, sampai akhirnya aku sadar ketika tubuhku tengah terbaring di dalam ruangan rumah sakit ini.
Kulihat ke sekelilingku, tak ada satupun keluarga yang menemaniku di sini. Ruangan ini terasa begitu sepi, sama sekali tidak menggambarkan bahwa tengah ada seorang pasien yang sedang dirawat. Padahal, sering kali aku menjenguk saudara dan temanku yang tengah dirawat di rumah sakit, tampak jelas sekali bahwa disana begitu banyak keluarga yang menemani dirinya, sampai akhirnya ia tidak merasa kesepian sama sekali. Namun mengapa kali ini berbeda? Aneh.
Tiba-tiba perasaan yang mengganjal itu semakin lama semakin merayap di hatiku. Lalu mengapa tubuhku ini kini terasa ringan sekali? Aku sama sekali tidak merasakan adanya luka sedikit pun di tubuhku, tanganku pun bebas dari infus. Dengan keadaan yang seperti ini, rasanya tubuhku sehat-sehat saja, seperti tidak pernah terjadi hal mengerikan apa-apa yang menimpa tubuhku.
Apa sebenarnya kecelakaan kemarin itu hanya sebuah mimpi? Atau sekaranglah yang hanya sebuah mimpi?
Tak kuhiraukan pertanyaan-pertanyaan itu, lalu aku memutuskan untuk menurunkan kedua kakiku ke atas lantai yang terasa begitu dingin, dan perlahan-lahan kulangkahkan mereka untuk membawa tubuhku ini menuju ke luar ruangan untuk memastikan disanalah keluargaku tengah berada.
Namun sayang, di luar ruangan pun ternyata tak terlihat sama sekali batang hidung satupun keluargaku, yang terlihat hanyalah suster-suster berpakaian serba putih yang silih berganti melintas dihadapanku. Tapi tak tampak sama sekali wajah heran dari mereka tatkala mereka melintas di hadapanku kali ini. Semuanya begitu acuh kepadaku.
Tiba-tiba dari belakang seseorang menepuk pelan pundakku, tangannya terasa dingin sekali. Lalu kuputar balik tubuhku ke arahnya. Ternyata ia adalah seorang nenek tua dengan daster putih yang menutupi tubuh kurusnya, lalu ia tersenyum menatapku. “Tidak usah heran nak kalau melihat orang-orang begitu acuh melihatmu” katanya seranya melepaskan tangan keriputnya dari pundakku.
“Nenek siapa? Memangnya kenapa, Nek?” tanyaku heran.
“Kamu tidak perlu tahu siapa nenek, tapi yang pasti sekarang kita telah memilki nasib yang sama. Namun sayang, spertinya kamu masih terlalu muda untuk mengalami semua ini” jawabnya, malah membuatku tambah heran.
“Maksud nenek apa? Aku tidak mengerti, Nek..”
           “Pulanglah sana ke rumahmu. Nanti saat kamu sampai di rumah, kamu akan tahu apa sebenarnya yang telah terjadi pada dirimu..” jelasnya dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Kemudian ia membalikan tubuhnya dan berjalan menjauhiku dengan langkah yang tertatih-tatih.
Seiring dengan nenek itu membalikan tubuhnya, aku pun segera berlari secepat mungkin menuju ke rumahku. Dengan telanjang kaki, kutelusuri jalan aspal hingga aku sampai mendapati sebuah jawaban yang jelas.
* *
            Ternyata bendera kuning telah terpajang dengan yakin di batang pagar rumahku. Seolah-olah telah jelas menyampaikan sebuah berita kepadaku bahwa seseorang telah meninggal dunia di dalam rumahku. Wajahnya seakan menampakan ekspresi yang aneh, seperti sedih, heran, bingung, namun juga tersenyum ramah melihatku. 
            Seluruh tubuhku bergetar, tak bisa kubayangkan wajah seseorang yang tengah berada di balik kain kafan putih itu. Tiba-tiba kakiku terasa begitu lemas, seperti rapuh, hingga tak kuat untuk menopang tubuhku yang berat ini, dan aku pun terjatuh.
            Kemudian dari balik pagar, keluarlah berbondong-bondong keluarga dan tetanggaku. Mereka menggotong sebuah kurung batang yang bertutupkan selembar kain hijau. Namun aku masih tak kuasa untuk berdiri, seakan tenagaku telah terkuras habis oleh ketegangan dan ketakutan perasaanku, sehingga aku tak bisa untuk melangkah menghampiri mereka.
Mereka melewatiku dengan acuh, tak ada satu pun yang menghampiriku, semuanya terus berjalan dengan wajah sedihnya. Ayah, dengan tubuh tingginya ia menggotong kurung batang penuh dengan tanda tanya itu bersama paman dan tetanggaku. Ibu, ia menangis tersendu-sendu seraya dirangkul oleh tante dan kakakku. Adik, dengan wajah polosnya berjalan menunduk di samping ayahku.
Aneh rasanya! seluruh penghuni rumahku lengkap. Ayah, ibu, kakak, dan adikku semuanya ada. Lalu siapa yang berada di dalam kurungan itu? Tidak ada seorang pun yang tinggal di rumah itu kecuali kami berlima.
* *
            Dengan tubuh yang masih gemetar ketakutan, aku mengikuti langkah mereka yang tengah menggotong jasad itu. Sampai akhirnya kami tiba di tempat tujuan akhir, yaitu sebuah pemakaman umum. Begitu banyak gundukan-gundukan tanah dengan nisan yang terpajang rapih disini. Seolah mereka mengajarkan kepada kami bahwa hidup itu pasti akan berakhir dan berujung di tempat sepi seperti ini. Maka, aku pun menyebutnya sebagai “Rumah Terakhir”.
Kemudian kami menyusuri sebuah jalan setapak di tengah makam-makam itu, sampai kami tiba di sebuah lubang 1 kali 2 meter yang kelak akan dijadikan rumah terakhir bagi jasad yang tengah dipikul itu.
Tiba-tiba, aku dikejutkan oleh sebuah tulisan di permukaan sebuah kayu nisan yang dibawa oleh sepupuku. Tulisan itu membentuk sebuah nama. Nama yang sudah tidak asing lagi bagiku, bahkan hampir sudah mendarah daging denganku. Lalu kubaca berulang-ulang nama itu, kupastikan jelas-jelas, sampai aku benar-benar yakin bahwa aku tidak salah baca. Namaku! Iya! Itu namaku!! Tidak salah lagi, itu namaku! Astaghfirullaah…
Aku segera berlari mendekati sepupuku itu. “Bowo! Apa ini maksudnya?!” Tanyaku berteriak. Namun ia tidak memperdulikanku sama sekali. Lalu aku pun mencoba menahannya dengan memegang pundaknya. Namun seperti sebuah fatamorgana, aku tidak bisa menahannya. Aku tidak bisa menyenuhnya sama sekali. Aku seperti hanya sebuah fatamorgana. Tidak nyata!
Baiklah, aku memngerti sekarang. Jadi kecelakaan yang menimpaku kemarin sore telah menyebabkan rohku ini berpisah dari jasadku. Kini aku telah meninggal dunia. Aku bukanlah aku yang dulu lagi, aku hayalah sebuah roh, yang sebentar lagi akan masuk ke dalam sebuah liang pemakaman, atau rumah terakhir. Dimana rumah itu juga sebagai persimpangan dimana aku harus bersiap diri untuk pergi ke dalam kekekalan yang indah atau kekekalan yang menyakitkan seiring dengan ditiupnya sangkakala..

Jumat, 19 November 2010

cerpen: SEKUNTUM BUNGA HARAPAN

          Sekuntum bunga harapan, sekuntum bunga yang begitu memesona. Ia memiliki mahkota merah yang sangat besar dan indah, sehingga menambah unsur kemewahan pada dirinya. Aromanya pun harum sekali, jika kau menciumnya seketika beban hidupmu pasti akan terasa ringan, seakan-akan kau sedang melayang di atas awan yang sangat putih dan bersih. Bagiku tak ada satu pun bunga yang dapat menandingi keindahan dan kemewahannya, karena ialah bunga yang terindah di dunia ini.
         Namun bunga harapan sebenarnya berbeda dengan bunga pada umumnya. Ia tidak tumbuh di atas tanah atau air, ia hanya tumbuh di hati setiap insan yang ada di dunia ini. Ia juga tidak memerlukan cahaya, air, atau karbon dioksida untuk menyambung hidupnya, ia hanya memerlukan rangsangan perasaan dari setiap insan yang memiliknya. Selain itu, ia juga tidak perlu ditanam dengan cara dipaksa, karena ia akan tumbuh dengan sendirinya jika ada insan yang mulai membentangkan harapan tinggi kepada seseorang yang membuatnya jatuh cinta.
          Tidak ada bunga yang dapat mekar untuk selamanya. Begitu juga dengan bunga harapan, ada kalanya ia akan layu. Tetapi cara ia layu sangat berbeda dengan bunga pada umumnya. Ia akan layu jika harapan sang pemilik kepada seseorang yang dicintainya tidak dapat tercapai, dengan rasa yang sangat pahit. Sebaliknya jika harapannya dapat tercapai, maka bunga ini pun akan mekar dengan indanya.
         Itulah bunga harapan yang mungkin saja telah tumbuh juga di hatimu.
* *
         Diva, seorang wanita yang pertama kali membuka kisah cintaku bagaikan sebuah mentari pagi yang membuka lembaran hari baru. Oleh karena itu, aku sering menyebutnya dengan sebutan ‘Sang Mentari Pagi’. Wanita itulah yang telah berhasil menumbuhkan bunga harapan di hatiku untuk pertama kalinya.
         Namun sudah dua tahun kami tidak pernah bertatap muka kembali. Setelah pendidikan kami di SMP Negeri 47 Jakarta selesai, ia harus melanjutkan pendidikan SMAnya di Bandung, karena ayahnya dipindah tugaskan ke Kota itu oleh kepala kantornya. Sejak hari itulah kami hanya dapat berhubungan via handphone dan jaringan internet saja, hingga membuat bunga harapanku tidak dapat mekar seindah waktu pertama kali tumbuh kembali, pahit sekali rasanya.  
                                                            * *
         Ketika itu waktu telah menunjukan pukul delapan malam, aku sedang membaca sebuah novel di dalam kamarku. Tiba-tiba sebuah pesan masuk di handphoneku, segera kuambil benda yang kuletakkan di atas tempat tidurku itu. Ternyata pesan tersebut dikirim oleh sang mentari pagiku, Diva. ”Malam Wan, aku punya kabar baik nih untukmu” katanya lewat pesan itu.
         Penasaran, langsung kubalas pesan itu ”Kabar apa Div? Sepertinya kabar yang sangat bagus ya?”
         ”Begini Wan, besok malam ayahku ingin mengunjungi kantor lamanya untuk mengambil sebuah arsip pekerjaannya. Jadi besok aku mau ikut ayahku ke Jakarta” jawabnya.
         ”Hah? Yang benar?” balasku.
         ”Iya benar. Terus besok malam kita ketemuan yuk di taman samping SMP kita dulu, kamu bisa gak Wan?”
         ”Oh, pasti bisa Div. Jam berapa?”
         ”Jam 7 malam”
         ”Oke. Aku tunggu yaa..”
         Sulit sekali rasanya untuk mempercayainya, sudah hampir dua tahun menunggu akhirnya besok malam aku akan bertemu dengannya lagi. Terima kasih Tuhan, Kau telah memberikan kesempatan lagi kepada bunga harapanku ini untuk memekarkan mahkotanya, takkan kusia-siakan kesempatan yang telah Kau berikan kepadaku ini Tuhan.
         Tiba-tiba muncul sebuah ide di dalam otakku ”Hm.. Apa besok malam sekalian kunyatakan perasaan cintaku ini saja ya? Pasti besok malam adalah waktu yang sangat tepat. Lagi pula tak ada salahnya juga kan menjalin hubungan jarak jauh? Toh tidak ada yang melarang juga. Lalu apa yang harus kuberikan untuknya besok malam ya? Oiya, lagu! Akan kubuatkan lagu sekarang juga untuknya. Sip!”
                                                                        * *  
         Rasanya bagaikan hantaman sebuah petir di tengah badai besar di tepi pantai. Pantai yang seharusnya terlihat indah, berubah menjadi tempat yang sangat menakutkan dan menyeramkan. Pertemuan yang awalnya kuharap akan berujung dengan indah ternyata berakhir menjadi pertemuan yang sangat menyakitkan hingga membuat bunga harapanku layu, kering, lalu mati untuk selamanya.
         Bulan purnama tengah menyinariku yang sedang duduk sendiri di atas bangku taman menanti datangnya sang mentari pagi sambil ditemani sebuah gitar akustik milikku. Sesekali kutatap arloji yang kupakai di lengan kiriku.
         Waktu telah menunjukan pukul delapan malam, namun Diva tak kunjung datang juga. Padahal ia telah mengatakan akan datang satu jam yang lalu, aku pun sudah hampir dua jam menunggu di tempat yang mulai membosankan ini. Seakan-akan aku mendengar bisikan bulan purnama yang berulang kali bertanya kepadaku “Sedang apa kau disini nak? Nampaknya kau adalah anak laki-laki yang sedang kesepian ya?”
         Setiap kali aku mendengar bisikan itu, rasanya ingin sekali kutelfon dan menanyakan keberadaan sang mentari pagiku itu. Namun sayang handphonenya tidak aktif, aku pun dibuat bingung olehnya. Ah, Diva kau dimana?
            Tiba-tiba beribu pertanyaan negatif muncul di pikiranku “Apa Diva tidak jadi datang? Atau jangan-jangan ia memang tak ada niat untuk datang? Lalu semua yang dikatakannya kemarin hanya bohong”
         ”Ah, tidak mungkin Diva tega membohongiku. Aku akan menunggunya sampai pukul setengah sembilan malam nanti, kalau ia tidak datang juga berarti ia memang hanya membohongiku, dan aku akan pulang ketika itu juga” kataku dalam hati.
         Seiring berjalannya waktu, bunga harapanku pun perlahan-lahan mulai menyusut dari masa kemekarannya untuk menuju sebuah masa yang sangat pahit, yaitu layu.
         Namun ternyata waktu sudah menunjukan pukul setengah sembilan malam, dan Diva tak kunjung datang juga. Seperti yang telah kuniatkan, aku langsung berdiri dari tempat dudukku dan segera berlari menuju ke gerbang keluar.
         Namun tiba-tiba terdengar teriakan seorang wanita dari belakangku, ia memanggilku “Awaaan….!” suara itu terdengar sangat familiar sekali di telingaku. Aku pun segera menoleh ke belakang, wanita yang memanggilku itu adalah seorang wanita cantik berambut panjang dengan dress putih yang dikenakannya, lalu ia tersenyum melihatku. Ternyata ia adalah wanita yang kutunggu-tunggu dari tiga jam yang lalu, sang mentari pagi, Diva. Ah, akhirnya bunga harapanku pun mulai mekar kembali dari sebuah prosesnya menuju kelayuan, indah sekali rasanya.
         Dengan rasa tak sabar, aku segera mengejarnya dan merangkul tubuhnya dengan senyum yang tak lepas dari bibirku, lalu kuajaknya duduk di sebuah bangku taman. ”Maaf banget ya Wan aku telat, soalnya tadi arsip ayahku ada yang hilang. Jadi aku harus membantu mencari arsipnya dulu. Maaf banget ya..” katanya dengan nada yang sangat lembut.
         Aku menatapnya dengan penuh kebahagiaan, namun degup jantungku terasa sangat cepat sekali. ”Oh, tidak apa-apa kok. Tenang saja Div” jawabku. Lalu ia pun tersenyum menatapku.
         Namun selang waktu beberapa detik tampak kesedihan dari paras wajahnya yang begitu anggun hingga membuat hatiku bertanya-tanya. “Kamu terlihat sedih Div, ada apa?” tanyaku dengan suara yang sangat pelan dan penuh kehati-hatian. Namun ia hanya tersenyum walaupun terlihat sedikit dipaksakan. “Ada apa? Cerita saja pada ku..” tambahku.
         “Tidak kok, aku tidak sedih. Malah aku sangat bahagia” ia berusaha meyakinkanku. “Sudah hampir dua tahun kita tidak pernah bertemu, tapi akhirnya ditempat ini kita bisa bertemu lagi. Aku senang sekali, Wan” Sambungnya sambil tersenyum.
         “Oh bagus deh kalau kamu tidak apa-apa, aku juga senang sekali bisa bertemu lagi sama kamu di tempat ini” kataku sambil tersenyum. ”Oiya, ada sesuatu yang ingin kutunjukan kepadamu”
         “Apa itu?” tanyanya tak sabar.
         “Aku ingin mempersembahkan sebuah lagu untukmu. Lagu ini khusus kuciptakan untukmu, khusus di malam ini”
         Ia mengerutkan dahinya sambil tersenyum. “Kamu ingin memainkannya sekarang? Aku penasaran” katanya dengan penuh semangat. Hilang sudah semua kesedihan yang sebelumnya tampak di wajahnya.
Kemudian segera kupetik senar gitarku dan mulai menyanyikan lagu tersebut. Kuharap hatinya bisa terpikat kepadaku dengan laguku itu. Kata demi kata kulantunkan dengan penuh penghayatan, hingga aku pun merasa kalau lagu itu sangat indah sekali. Seketika suasana taman terasa sangat hening dan tenang, tiada satupun suara yang terdengar, hanya suaraku, gitarku, dan hembusan angin malam yang sangat menenangkan jiwa.
                                                                        * *
         Tiba-tiba teringat kembali pada kisah pertamaku bertemu dengan Diva. Ketika itu aku masih kelas dua SMP di sebuah sekolah yang sama dengannya.
         Setelah bel istirahat dibunyikan, dari tempat dudukku aku berjalan menuju ke luar kelas. Lalu seorang wanita berambut poni yang terurai lurus berlari dari luar menuju ke dalam kelas, ia adalah Diva. Tepat di mulut pintu ia nyaris menabrakku, namun ia menahan tubuhnya dengan cara memegang pundakku. Otomatis kami pun beradu pandang, dekat sekali, mungkin hanya berjarak lima centi saja.
         Suasana kelas yang sebenarnya sangat berisik seketika terasa hening, tak ada satu pun suara yang terdengar lagi. Mata kami bertatapan dengan perasaan yang tak dapat dilukiskan oleh kata-kata. Hatiku terpana dan tubuhku seakan melayang di atas awan yang sangat putih dan bersih, mataku pun dibutakan oleh kecantikan dan keanggunan wajahnya, detak jantungku menjadi cepat tak karuan. “Mungkin inikah yang dinamakan dengan cinta pada pandangan pertama? mungkinkah wanita ini adalah cinta pertamaku?” tanyaku dalam hati sambil tersenyum-senyum malu.
         Terlihat kecantikan yang begitu memesona dari wajahnya. Rambutnya yang panjang dan tubuhnya yang tinggi pun menambah keindahan pada dirinya hingga membuat bibit bunga harapan tumbuh di hatiku. Bibit-bibit itu terasa sekali menancap di hatiku dan dengan cepat mengeluarkan akar-akarnya yang langsung merambat semakin dalam di hatiku.
         “Eh, maaf..” Dia melepaskan tangannya dari pundakku. Kalimat itu pun menghamburkan seluruh lamunanku, aku tersenyum kepadanya. Namun aku tetap tidak bisa memalingkan pandanganku dari wajahnya, bola mataku tetap tidak bisa berhenti untuk terus mengikutinya sampai ke bangku paling belakang.
            “Hey!” seseorang menepuk pundakku dari belakang, Dia adalah Rizky teman sebangkuku. Tepukan itu seolah menjadi sebuah tepukan yang menyadarkanku dari sebuah hipnotis yang sangat kuat, aku pun menoleh kepadanya. “Hati-hati! Kata orang cinta pertama itu sulit untuk dilupakan” Katanya sambil tersenyum-senyum.      
        
                                                             * *
         Terus kunyanyikan lagu itu. Baru memasuki bagian reff namun tiba-tiba Diva menunduk dan meneteskan air matanya, hingga membuatku merasa sangat bingung. Segera kuhentikan nyanyianku. 
         “Kenapa kamu menangis?” Tanyaku pelan seraya menghapus air matanya dengan sapu tangan yang kuambil dari kantong celanaku.
         “Tidak apa-apa kok…” Jawabnya lembut dan langsung menghentikan tangisnya.
         “Benar tidak apa-apa?”
         “Benaar..” ia memaksakan diri untuk tersenyum.
         Lalu tak ada satupun dari kami yang mengeluarkan suara. Kami hanya saling berpandangan, lama sekali.
          Kemudian pelan-pelan kuberanikan diri untuk memegang kedua tangannya, jantungku mulai berdegup kencang. Menurutku, ini adalah waktu yang sangat tepat untuk aku mengutarakan perasaan cintaku kepadanya.
         “Div.. Kamu tahu kan kalau dari SMP aku sudah suka sama kamu?” ia mengangguk dengan tangan yang gemetar. “Sekarang aku mulai ingin serius denganmu, Div”
         “Maksudmu?” Dia pun memasang tampang bingungnya.
         “Maksudku, kamu mau tidak jadi pacarku?” Tanyaku pelan dengan perasaan yang sangat takut. Jantungku tambah berdegup kencang, hingga terdengar sampai ke telingaku.
         Namun ia diam sambil menundukkan kepalanya. Pikirku mungkin ia sedang memikirkan jawaban yang tepat agar tidak terjadi penyesalan di kemudian hari. Tapi ternyata salah! entah mengapa ia malah kembali menangis. Ia melepaskan tangannya dari genggamanku dan menutup matanya dengan kedua tangannya itu. Ah, aku sungguh bingung dengannya. Dari awal aku sudah memiliki firasat yang tidak baik padanya. Apa sebenarnya yang terjadi? Ada apa?
         “Maaf Wan, aku tidak bisa. Aku benar-benar tidak bisa…” Katanya sambil meneteskan air matanya.
         “Kenapa?” Tanyaku dengan tampang yang memelas.
         “A-aku tidak bisaa…”
         “Oke, baiklah kalau kamu memang benar-benar tidak bisa menerimaku.. Tapi kenapa?” Tanyaku. Tapi ia hanya menunduk, lama sekali, kemudian ia menatapku lagi.
         “Wan, tapi kamu harus ingat ya kalau perjumpaan itu pasti akan selalu berujung dengan perpisahan, dan perpisahan pun tidak akan pernah ada selama tidak pernah terjadi perjumpaan” Katanya sambil terisak-isak.
         “Maksud kamu apa?” Tanyaku heran.
         “Begini, sebenarnya aku bisa saja menerimamu sebagai pacarku. Tapi mungkin nanti kita tidak akan bisa bertemu lagi” Jawabnya seraya menghapus air matanya.
         Kalimat itu sangat mengejutkanku, bagaikan mendengar sebuah ledakan bom yang sangat dahsyat. Tatapan mataku pun menjadi kosong, tanpa ekspresi, seperti patung, ya patung yang sangat bodoh dan tak berarti.
         “Besok pagi aku akan berangkat menuju New York atas permintaan ayahku. Ayahku meminta kami sekeluarga pindah ke New York karena ia dipindah tugaskan ke sana. Tadi arsip-apsip yang diambilnya adalah arsip-arsip yang ingin dibawa ke sana.” Jelasnya, namun aku masih tetap diam terpatung. Aku tak percaya akan kenyataan ini, awalnya kukira malam ini akan menjadi malam yang sangat indah, namun malah hancur berantakan oleh sebuah kenyataan yang sangat bertolak belakang dengan harapan. Bunga harapanku pun dengan cepat menjadi layu, seakan ia kecewa kepadaku karena aku tidak bisa menjaganya dengan baik.
         “Ta-tapi…”
         “Tin..! Tiiiinnn…” Terdengar bunyi klakson yang memotong pembicaraanku dari sebuah mobil yang diparkir di pingir jalan depan gerbang taman. Aku menoleh ke mobil itu, begitu juga dengan Diva.
         “Iyaa… Tunggu dulu..!” Teriak Diva ke arah mobil itu.
         “Siapa Div?” Tanyaku penasaran.
         “Ayahku. Malam ini juga aku sudah harus bersiap-siap untuk keberangkatanku besok pagi, sekarang aku sudah harus pulang ke rumah Wan” Jawabnya.
         Aku menatapnya kaget dan segera memeluknya ”Div, aku takut kita tidak bisa bertemu lagi” kataku sambil memeluknya.
         ”Tidak Wan, aku yakin pada suatu saat nanti kita pasti akan bertemu lagi. Tapii..”
         “Tapi apa?” Tanyaku.
         “Tapi sebenarnya aku juga tidak tahu yang kumaksud dengan suatu saat itu akan datang kapan” Jawabnya sambil meneteskan air mata.
         Kemudian ia melepaskan pelukanku dan berlari menuju mobil itu. Aku hanya terpatung menatapnya.
                       
                                                            * *
         Pahit sekali rasanya. Kini sang mentari pagiku telah pergi jauh meninggalkanku. Tak pernah kusangka masa-masa yang telah kulalui bersamanya hanya berakhir dengan akhir yang seperti  ini. Tuhan, ini bukanlah sebuah akhir yang kuinginkan, bisakah Kau merubahnya lagi agar menjadi sebuah akhir yang lebih baik? Aku ingin akhir kisahku ini berakhir seperti di dalam film-film, happy ending.
         Memang sebenarnya apa yang dikatakan Diva sangat benar, perjumpaan itu pasti akan selalu berujung dengan perpisahan, dan perpisahan pun tidak akan pernah ada selama tidak terjadi perjumpaan. Namun kenapa perpisahan ini terjadi terlalu cepat? Kenapa harus di malam itu? Kenapa tidak di malam seratus tahun ke depan? Agar aku bisa bersamanya lebih lama lagi.
         Namun bunga harapanku kini telah berubah, ia bukanlah bunga harapanku yang dulu lagi. Kini ia telah mengering, sudah tak pernah mekar seindah dulu. Warnanya yang begitu cerah telah berubah menjadi cokelat bahkan hampir mendekati hitam. Aromanya yang dulu begitu menyegarkan pun sekarang berubah menjadi bau yang sangat busuk. Tidak ada lagi bunga yang bernama bunga harapan di hatiku, kini bunga itu telah mati seiring usainya kisahku bersama sang mentari pagi.   
         Namun aku yakin bahwa bunga harapan pasti akan tumbuh kembali di hatiku.  Namun sayangnya ia akan tumbuh dengan kisah yang baru, bukanlah kisah dengan sang mentari pagiku lagi. Selamat tinggal sang mentari pagiku...